Berita

Munir/Net

Politik

Istri Munir: Saya Dipermainkan Rezim Jokowi

MINGGU, 09 OKTOBER 2016 | 18:05 WIB | LAPORAN:

Istri almarhum aktivis Munir Said Thalib, Suciwati begitu emosional menanggapi kasus kematian suaminya tidak kunjung selesai di rezim pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Padahal, Jokowi pernah berkomitmen untuk menyelesaikan semua kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.

Suciwati merasa dipermainkan. Bukannya mendapat titik terang kematian suaminya, dokumen Tim Pencari Fakta (TPF) Munir malah diklaim tidak ada atau tidak dimiliki oleh Kementerian Sekretariat Negara. Padahal dokumen TPF harusnya disimpan oleh Setneg sebagai lembaga yang mengurusi administrasi Presiden berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 24/2015.

"Kalau 12 tahun perjalanan kasus suami saya biasa ya kayak semacam kita bisa melihat perilaku. Di mana negara senang sekali mempermainkan masyarakatnya, dalam hal ini saya sebagai keluarga korban," ujar Suciwati dalam jumpa pers di kawasan Menteng, Jakarta (Minggu, 9/10).


Selama ini, ia dijanjikan akan penyelesaian kasus kematian suaminya lewat TPF. Namun, dokumen TPF malah terbengkalai di tangan aparatur negara. Kasus Munir semakin menjadi bola liar dan dijadikan komoditas politik tiap ada hajatan politik karena tak kunjung selesai. Suciwati lagi-lagi merasa dipermainkan.

"Suami saya dihilangkan. Presiden  yang baru ini (Jokowi) menjadikan (kasus Munir) komoditas politiknya.
Mereka terus mempermainkan tidak hnya saya, tapi juga masyarakat kita. Kasus ini terus diolah, digoreng," jelasnya.

Suciwati makin merasakan kepahitan tatkala Presiden malah mengangkat orang-orang yang dianggap bertanggung jawab atas kematian Munir ke panggung-panggung kekuasaan. Diapun mengaku makin merasakan, bahwa selama ini ternyata penegakan hukum di Indonesia hanya untuk kaum kapitalis semata. Sementara, warganya harus berjuang sekuat tenaga untuk memperoleh keadilan, namun harus melewati rasa sakit yang berkepanjangan.

"Ini negara kacau, negara salah urus. Pemerintah berfoya-foya di atas penderitaan rakyat. Mereka menegakkan hukum untuk kapitalis. Saya merasakan itu. Yang saya lihat adalah rasa kesakitan yang berkepanjangan," lirihnya.

Pemerintah saat ini seperti telah menghina akal sehat masyarakat. Kasus pelanggaran HAM ditaruh di tempat yang gelap. Untuk kasus kematian suaminya, Suciwati kini menggantungkan harapan ke Komisi Informasi Publik (KIP), agar memutuskan hasil TPF wajib diungkapkan ke publik.

"Kami tidak menyerah. Saya tidak mau rakyat yang berkata benar dibunuh, dihabisi. Akal sehat kita terus-terusan dihina oleh negara ini," tegasnya. [wah] 

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya