Berita

Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat/Net

Politik

4 Alasan Ahok Kalah Jika Head To Head

MINGGU, 09 OKTOBER 2016 | 08:53 WIB | LAPORAN:

Ada empat alasan mengapa pasangan Ahok-Djarot menang ketika tiga pasang, namun kalah jika head to head hanya dua pasang.

Pertama, perpindahan dukungan yang merugikan Ahok. Jika head to head melawan Anies-Sandi, pendukung Agus-Sylvi mengalihkan dukungannya untuk jagoan Gerindra-PKS itu (64,3 persen) dibandingkan ke petahana (14.3 persen).

Begitu pula, jika versus Agus-Sylvi, Ahok hanya meraup 8,6 persen. Pendukung Anies-Sandi lebih banyak ke Anies-Sandi (59,1 persen).


"Segmen pemilih Anies-Sandi dan Agus-Sylvi memiliki profil yang sama. Ketika pertarungan tiga pasang, segmen ini terpecah kepada dua kubu," terang Manajer KCI-Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Network ,Denny J.A tentang kesimpulan hasil survei LSI periode 28 September-2 Oktober 2016.

Namun di putaran kedua, ketika hanya dua pasang melawan Ahok, segmen ini menyatu di belakang Anies atau Agus.

Alasan kedua mengapa Ahok kalah jika head to head,  pemilih muslim. Pasangan Anies-Sandi dan Agus-Sylvi unggul di pemilih muslim dengan basis suara mencapai  lebih dari 90 persen.

Sementara pemilih yang tidak inginkan non muslim menjadi gubernur angkanya naik dari 40 pesen pada Maret 2016 menjadi 55 persen di bulan Oktober2 016.

Ketiga, lanjut Denny, pemilih non tionghoa. Pemilih non tionghoa tergolong banyak yakni 90 persen. Pemilih yang tidak ingin dipimpin oleh etnis tionghoa meningkat dari 30 persen di Maret 2016 menjadi 50 persen di Oktober 2016.

Terakhir sentimen anti Ahok di luar isu primordial. Yaitu sentimen  anti Ahok karena kebijakan publik dan personality bersangkutan.

"Isu kebijakan publik yang tak disukai adalah penggusuran dan reklamasi. Isu personality yang tak disukai adalah Ahok suka memaki orang di muka publik," jelas Denny.

Di Maret 2016 yang tidak setuju dengan kebijakan dan personalitinya di angka 25 persen, meningkat tajam di Oktober 2016 menjadi 38,6 persen.

Riset LSI Pilgub Jakarta ini dilakukan dengan metode multi-stage random sampling dengan total 440 responden. Margin of error plus minus 4,8 persen. Survei ini dibiayai dengan dana sendiri.

Riset dilengkapi pula dengan kualitatif riset (FDG/focus group discussion, media analisis, dandepth interview).[wid]




Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya