Basuki Tjahaja Purnama/Net
Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Andre Rosiade menilai, tak disangsikan lagi, Gubernur Ahok telah menista kitab suci Alquran, khususnya QS Al Maidah ayat 51 dan agama Islam.
"Saya sudah menonton dan mendengarkan dengan baik-baik rekamannya, tidak ada yang diplesetkan sebagaimana disampaikan Ahok. Semuanya sangat jelas dan pernyataan itu masuk kategori penistaan dan penghinaan Alqur'an," kata Andre, Minggu (9/10).
Meski begitu Andre meminta warga ibukota dan umat Islam tidak terpancing dengan cara-cara kekerasan. Sebab Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin, agama yang membawa rahmat dan kedamaian di dunia.
"Lebih baik umat Islam yang merasa tidak terima dengan pernyataan Pak Ahok melaporkan dan mendorong proses penegakan hukum di kepolisian," sambungnya.
Jurubicara Tim Pemenangan pasangan Anies Baswedan - Sandiaga Uno itu juga menyayangkan klarifikasi Ahok di Balaikota, Jakarta, Jumat (7/10) lalu, terutama kata-kata 'dibodohi oleh orang-orang rasis pengecut menggunakan ayat suci untuk tidak memilih saya' yang justru tidak ada dalam video tersebut.
"Tidak ada itu, di video itu Ahok justru tidak mengeluarkan kata-kata rasis dan pengecut. Coba lihat kembali. Pembelaan Pak Ahok itu berbeda dengan yang ada dalam rekaman," ucap Andre.
Menurut Andre, seharusnya Ahok introspeksi diri, bukan justru menyalahkan orang kebanyakan. Terutama, menyangkut ucapan demi ucapannya yang kerap melukai warga Jakarta dan umat Islam umumnya selama ini.
Mengutip respon Anies Baswedan, Andre mengatakan, pernyataan Ahok dalam acara resmi pemerintah daerah dengan merujuk ayat suci Alquran sangatlah tidak perlu, tidak relevan dan tidak tepat. Seyogyanya pula Ahok meminta maaf dan tidak berdalih pembelaan diri.
"Apa salahnya Ahok meminta maaf? Pernyataan Ahok ini kan sangat sensitif dan bisa memecah belah persatuan bangsa. Ahok harus bisa mengontrol emosinya, jangan terus-terusan marah, mari bersama-sama menjadikan Pilkada sebagai pesta demokrasi dan festival ide dan gagasan yang penuh suka cita ," jelas Andre.
Terakhir, Andre menyatakan proses penegakan hukum menjadi pertaruhan sekaligus ujian profesionalisme institusi Polri di bawah kepemimpinan Jenderal Tito Karnavian.
"Jangan sampai institusi Polri mengorbankan netralitasnya dengan membela Ahok. Dugaan penghinaan Alqan harus diproses secara profesional dan transparan. Kami khawatir jika tidak diproses demikian akan memicu kemarahan umat Islam di Indonesia," pungkasnya.
[wid]