Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Sekarang Lembaga Survei Hanya Bikin Konsolidasi Demokrasi Sulit Terbangun

KAMIS, 06 OKTOBER 2016 | 20:51 WIB | LAPORAN:

RMOL.  Rakyat Indonesia harus sadar dan tidak buru-buru mempercayai hasil survei terkait Pilkada. Sebab, saat ini banyak lembaga survei yang tidak benar alias membela yang bayar.

Begitu dikatakan Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),  Siti Zuhro, dalam dialektika demokrasi dengan tema "Menguji Survey Jelang Pilkada" di Media Center DPR,  Kamis (6/10).

Siti sendiri sudah sejak 2008 kurang mempercayai hasil survei. Mengapa? Menurutnya, banyak lembaga survei yang sudah tidak lagi membela yang benar, melainkan membela yang bayar.


"Pada 1999 tidak ada lembaga survei, dan baru muncul tahun 2004 saat Pilpres SBY dan 2005 saat Pilkada. Tapi, hasil survei itu justru menimbulkan konflik, karena margin error 5 persen, yang bisa dimanfaatkan untuk memenangkan calon tertentu,” jelasnya.

Karena itu, kata Siti, lembaga survei itu harus profesional. Jika itu tidak dilakukan, maka kebohongan publik tercipta. Salah satu kebohongan publik yang dimaksud, adalah lembaga survei bisa mengatur pilkada hanya satu putaran, padahal ada empat calon yang bertarung.

Logikanya, kata Siti lagi, sebagai peneliti yang sudah melakukan penelitian selama 30 tahun, tidak nyambung kalau lembaga survei bisa mengatur Pilkada menjadi putaran.

"Ini memutarbalikan logika yang sudah menjadi peneliti selama 30 tahun. Survei melakukan kebohongan publik. Lembaga survei seperti ini harua istigfar dan jangan memaksa kehendak hanya kerena mereka dibayar oleh calon miliaran ruliah," kata Siti.

Oleh karena itu, dia menyarankan, tak hanya lembaga survei, namun parpol, media dalam menghadapi pilkada, harus professional, transparan dan akuntabel.

"Boleh mencari uang, namun harus proporsional dan tidak menghalalkan segala cara. Kalau tidak, maka kita akan sulit membangun konsolidasi demokrasi ini,” pungkasnya. [sam]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Jutaan Orang Tak Sadar Terkena Diabetes

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:17

Kejati Sumut Lepaskan Tersangka Penadahan Laptop

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:00

Sektor Energi Indonesia Siap Menggebrak Melalui Biodisel 50 Persen dan PLTN

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:35

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

Pasal Pembuka, Pasal Pengunci

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:21

Eggi Sudjana Perburuk Citra Aktivis Islam

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:19

Pratikno dan Jokowi Harus Dihadirkan di Sidang Sengketa Ijazah KIP

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:03

Dugaan Pengeluaran Barang Ilegal di Cileungsi Rugikan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:45

Eggi Sudjana Konsisten Meyakini Jokowi Tak Punya Ijazah Asli

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:15

Selengkapnya