Berita

Ikrar Nusa Bhakti/net

Politik

Ikrar Pertanyakan Hasil Survei LSI Yang Sebut Ahok Berpotensi Kalah

KAMIS, 06 OKTOBER 2016 | 18:36 WIB | LAPORAN:

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ikrar Nusa Bhakti, menggugat hasil survei yang dilakukan pihak Lingkaran Survei Indonesia (LSI) di bawah asuhan Denny JA.

Dia menilai, Denny sedang menjadi konsultan politik salah satu pasangan calon dalam Pilkada Jakarta, atau sedang mencari "pasar".

Seperti marak diberitakan media-media nasional dua hari belakangan, dalam hasil survei lembaga riset yang memiliki reputasi cukup baik dalam tiap Pemilihan Umum itu, ditemukan bahwa pasangan petahana, Basuki Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, sangat potensial kalah di putaran pertama Pilkada Jakarta di bulan Februari 2017.


"Denny menjadi konsultan politik salah satu calon, survei apa adanya atau cari pasar untuk salah satu pasangan, yaitu Anies-Sandiaga atau Agus Yudhoyono-Sylviana Murni," ujar Ikrar saat dihubungi wartawan, Kamis (6/10).

Ikrar mempertanyakan survei itu yang tidak membuat penelitian soal pertarungan head to head. Sebab kalau head to head tidak hanya menilai dukungan kepada Ahok, tetapi juga melihat suara yang dimiliki Djarot.

Menurutnya, apa yang disebut sebagai simulasi dalam survei itu hanya penjumlahan dari perolehan Anies Baswedan dan Agus Yudhoyono. Sulit menguji apakah benar pendukung Agus sepenuhnya akan bermigrasi ke Anies, atau sebaliknya, di putaran kedua.
Asumsi migrasi dukungan didasarkan pada sentimen keengganan pemilih Islam memilih Ahok, yang menurut LSI mencapai 40 persen. Asumsi tersebut sulit diterima mengingat berdasarkan sebaran dukungan, dukungan Ahok dari pemilih Muslim justru lebih besar (27,7 persen), Anies (22,8 persen) dan Agus (20,6 persen).

Disebutkan, angka elektabilitas Ahok pada survei Oktober turun ke 31,4 persen. Angka ini sama dengan simulasi tiga pasangan di mana pasangan Ahok-Djarot juga memperoleh suara 31m4 persen. Angka ini ganjil karena berarti Djarot tidak memberikan andil suara.

Ikrar juga menyayangkan isu SARA menyertai hasil survei itu. Padahal selama ini Denny JA dikenal sebagai tokoh yang sangat menentang isu SARA.

"Jadi ini survei independen atau dibayar untuk pengaruhi opini? Sebab kalau ini terus menerus dibiarkan akan jadi kebenaran," tuduh Ikrar. [ald]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Jutaan Orang Tak Sadar Terkena Diabetes

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:17

Kejati Sumut Lepaskan Tersangka Penadahan Laptop

Rabu, 14 Januari 2026 | 06:00

Sektor Energi Indonesia Siap Menggebrak Melalui Biodisel 50 Persen dan PLTN

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:35

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

Pasal Pembuka, Pasal Pengunci

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:21

Eggi Sudjana Perburuk Citra Aktivis Islam

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:19

Pratikno dan Jokowi Harus Dihadirkan di Sidang Sengketa Ijazah KIP

Rabu, 14 Januari 2026 | 04:03

Dugaan Pengeluaran Barang Ilegal di Cileungsi Rugikan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:45

Eggi Sudjana Konsisten Meyakini Jokowi Tak Punya Ijazah Asli

Rabu, 14 Januari 2026 | 03:15

Selengkapnya