Berita

Foto/Net

Politik

Mohon Dimaklumi, Pembentukan DOB Tunggu Perekonomian Stabil

RABU, 05 OKTOBER 2016 | 09:20 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menjelaskan alasan mengapa Pemerintah masih menunda pembentukan daerah otonomi baru (DOB) alias pemekaran daerah pada 2016.

Jelas Tjahjo, Pemerintah saat ini tengah mempertimbangkan masalah regulasi, kondisi sosial dan politik, fiskal serta perekonomian negara. Sebab, dengan adanya penundaan anggaran, tentu berat bagi bupati/walikota dan gubernur untuk memfokuskan dana bagi DOB.

Sebab, dalam UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah, kata dia selama masa persiapan, pembiayaan DOB masih ditanggung daerah induk. Makanya, kondisi ini akan memberatkan daerah induk. Ditambah adanya penundaan anggaran untuk mereka.


"Hanya ditunda karena kondisi ekonomi belum tepat. Mohon bisa dimaklumi. Ini yang menjadi beban. Kalau tidak ada pengetatan anggaran, tentu daerah mampu menyisihkan untuk otonomi baru. Prinsipnya, Pemerintah masih menunda untuk tahun ini," kata Tjahjo dalam rapat konsolidasi bersama Komite I DPD di Komplek Parlemen, Jakarta, Selasa (4/10).

Selain itu, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Penataan Daerah dan Desain Besar Penataan Daerah (Disertada) secara prinsip materi sudah selesai. Tjahjo juga sudah melaporkannya kepada Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD), Jusuf Kalla yang juga adalah Wakil Presiden.

Menurut Tjahjo, selama ini masalah otonomi baru juga masih banyak menuai masalah. Misalnya, persoalan batas wilayah. Masalah ini, kata dia harus selesai sebelum ada proses peresmian otonomi baru. Persiapan pemekaran ini juga diminta jangan sampai ada perselisihan.

"Ada juga penduduknya tidak lebih dari 20 ribu orang, tentukan ibukota kabupatennya saja tiga tahun belum selesai. Selain itu ada daerah yang mana kantor kejaksaan, pengadilan, polres, kodimnya merangkap di sejumlah daerah. Hal ini harus dibenahi," ujar politisi senior PDIP Perjuangan ini. [rus]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Koperasi Harus Saling Berkolaborasi Perbesar Dampak Ekonomi

Jumat, 10 April 2026 | 22:20

Presiden Harus Ganti Gus Ipul Demi Sukses Muktamar NU

Jumat, 10 April 2026 | 22:14

Demonstran: MK Harus Jaga Marwah dan Jangan Takut Tekanan

Jumat, 10 April 2026 | 22:06

Pimpinan Baru Ombudsman RI Bertekad Kawal Asta Cita dan Perkuat Pengawasan Publik

Jumat, 10 April 2026 | 22:02

Teddy Bantah Isu RI Kaos, BBM Subsidi Tak Naik Jadi Bukti

Jumat, 10 April 2026 | 21:43

Breaking News: KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Jumat, 10 April 2026 | 21:38

Reshuffle Menteri Prabowo Jangan Tebang Pilih

Jumat, 10 April 2026 | 21:16

Dihantam Gelombang Mundur, PKN: Mati Satu Tumbuh Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 21:02

Perlu Peraturan Pemerintah Baru Demi Lindungi 64 Juta UMKM di Era Digital

Jumat, 10 April 2026 | 20:48

TNI Digeber Lewat Bimtek Ketahanan Pangan

Jumat, 10 April 2026 | 20:44

Selengkapnya