Berita

Ramlan Surbakti/Net

Wawancara

Ramlan Surbakti: Bukan Antiparpol, Tapi Kami Memang Cari Calon Yang Bukan Anggota Parpol

SENIN, 03 OKTOBER 2016 | 09:57 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pen­gawas Pemilu (Bawaslu) tidak boleh berasal dari partai politik. Untuk itu, Tim Seleksi Anggota KPU dan Bawaslu akan melakukan check dan counter check dari berbagai sumber untuk memastikan calon yang mendaftar bukan kader partai politik.
 
"Tentu dalam formulir sudah ada persyaratan (bukan kader parpol) itu. Kalau pernyataan di belakang hari bohong dan ketahuan, akan dapat sanksi. Makanya kita check dan counter check," ujar Wakil Tim Seleksi anggota KPU dan Bawaslu Ramlan Surbakti.

Menurut Ramlan, syarat itu bukan berarti memandang buruk partai politik. Langkah itu diam­bil sebagai upaya untuk meng­hasilkan anggota penyelenggara pemilu yang netral.


Pasalnya, anggota KPU dan Bawaslu sering sekali mendapatkan rayuan bahkan ancaman dari parpol. "Untuk itu kami melakukan langkah pencegahan dengan cara ini," jelasnya. Berikut wawancara dengan Ramlan Surbakti se­lengkapnya;

Berarti para calon komisioner KPU dan Bawaslu diwajib­kan sudah harus mengundur­kan diri dari parpol sebelum mendaftar sebagai calon?
Tidak. Yang bersangkutan sudah harus mengundurkan diri dari keanggotaan parpol lima ta­hun sebelum waktu pendaftaran, termasuk dari jabatan politik lainnya.

Kenapa harus lima tahun sebelum mendaftar?
Karena Pasal 11 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu menyatakan demikian.

Bagaimana cara timsel un­tuk memastikan tidak ada anggota parpol yang mendaf­tar sebagai calon komisioner KPU dan Bawaslu?
Misalnya kami akan kerja sama dengan Komite Intelijen Derah atau BIN (Badan Intelijen Negara) untuk melakukan pen­dalaman mengenai track record dari para calon. Supaya kami bi­sa pastikan mendapat calon yang tidak melanggar persyaratan.

Hanya dengan BIN kerja samanya?
Tidak. Kami juga mengharap­kan peran serta masyarakat, me­dia, dan para pemantau pemilu. Malah kami berharap pemantau pemilu bisa berperan dalam seleksi calon anggota penye­lenggara pemilu tersebut, seperti seleksi lima tahun sebelumnya.

Maksudnya?
Jadi pas diumumkan mereka kan bisa lihat, kandidatnya ada yang punya afiliasi parpol atau tidak. Apakah dia kader, pernah jadi calon, dipantau dari media juga, termasuk pas wawancara terakhir. Nah, ketika pendaftaran anggota penyelenggara pemilu dulu, ada calon yang memang bukan kader parpol. Namun belakangan diketahui, yang ber­sangkutan pernah mencalonkan diri maju melalui parpol.

Lalu apa yang terjadi?
Ketika kami tanya, dia pura-pura lupa. Ya akhirnya kami coret. Kami bukan anti parpol, tapi kami memang cari calon yang bukan anggota parpol.

Selain tidak boleh menjadi anggota parpol, apa syarat lainnya?
Calon juga tidak boleh memi­liki jabatan di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Daerah (BUMD), Warga Negara Indonesia (WNI), berusia mini­mal 35 tahun, berintegritas, sehat jasmani dan rohani, dan tidak pernah dipidana dengan ancaman kurungan lima tahun penjara berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan tetap. Tak hanya itu, calon juga harus memiliki pengetahuan dan keahlian kepemiluan. Kemudian tugas dari Bawaslu adalah untuk mengawasi jalannya pemilu dan menampung pengaduan masyarakat jika ditemukan adanya money politics. Jadi kami perlu juga anggota calon Bawaslu yang memahami betul hukum, yang memiliki pen­galaman memantau pelaksanaan pemilu, dan memantau dana ka­mapanye atau proses pemilu.

Syarat tambahan untuk calon anggota Bawaslu berat juga ya...
Sebab tantangan menjadi anggota Bawaslu nanti memang lebih berat. Hal ini dikarenakan saat Pemilu 2019, DPR akan me­nambah kewenangan Bawaslu dalam hal penegakkan hukum. Ditambah lagi ada pilkada ser­entak. Makanya kami berharap para calon yang mendaftar bisa memenuhi kriteria tersebut.

Pendaftaran kan sudah dibuka sejak pekan lalu. Sejauh ini sudah berapa orang yang mendaftar?
Saya belum tahu berapa calon yang sudah mendaftar. Namun, dari pantaun sekilas peminat calon anggota KPU-Bawaslu yang mendaftar lebih banyak dari Indonesia bagian barat. Oleh karena itu, tim seleksi harus memperkuat sosialisasi di wilayah lain­nya, agar pendaftar calon anggota di Indonesia bagian timur dan tengah bisa meningkat. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya