Daya saing Indonesia di level global dalam laporan World Economic Forum (WEF) turun dari 37 menjadi 41.
Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (CoRE) Mohammad Faisal prihatin dengan penurunan peringÂkat Indonesia. Menurutnya, laporan tersebut akan membuat investor asing lebih tertarik membenamkan investasinya di negara tetangga dibandingkan di Tanah Air.
"Biar bagaimana pun kita akan bersaing dengan negara lain untuk menarik investasi. Nah, untuk menarik investor butuh kepercayaan, laporan itu salah satu rujukannya," ujar Faisal kepada Rakyat Merdeka di akhir pekan.
Faisal melihat, saat ini masih ada investor mau investasi di Indonesia bukan karena fakÂtor melihat indeks daya saing. Tapi, melihat potensi pasar dan kekayaan sumber daya alam (SDA). "Kalau saja tidak memiliki kelebihan itu, apa mau datang?" imbuhnya
Sekadar informasi, dalam laporan indeks daya saing WEF 2016-2017, posisi Indonesia tidak lebih baik dibandingkan dengan negara tetangga, ThaiÂland yang berada di posisi 34, Malaysia 25, dan Singapura 2. Namun demikian, Indonesia masih unggul dibandingkan dengan Filipina yang berada diperingkat 57, Vietnam 60, dan Laos 93.
Faisal mengatakan, peringkat daya saing Indonesia turun disebabkan antara lain pelayanan kesehatan yang masih buruk dan lulusan penÂdidikan yang tidak nyambung dengan kebutuhan industri. Maka, untuk mendongkrak daya saing, perlu meningÂkatkan pelayanan kesehatan, dan menjembatani pendidikan dengan kebutuhan industri.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar dan Dagang Industri (Kadin) DKI Jakarta Sarman Simanjorang menilai penurunan peringkat daya saing harus ditindaklanjuti dengan evaluasi bersama. Karena, paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah sejauh ini sudah cukup baik.
Sarman mengatakan, penuÂrunan ini momentum pemerinÂtah untuk mengevaluasi semua paket kebijakan. Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) harus diperbaiki. Koordinasi antara pusat dengan daerah juga wajib ditingkatkan.
"Kebijakan yang menghambat dunia usaha dan investasi harus segera diperbaiki. Dan dalam kondisi seperti ini, buruh harus kondusif," imbuhnya. ***