Berita

Foto: Net

Nusantara

Kemendikbud Perlu Ahli Pembaca Buku Teks Pelajaran

KAMIS, 29 SEPTEMBER 2016 | 15:15 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Tidak mungkin ada kebijakan atau langkah sistematis dari pemerintah untuk menanamkan proses radikalisasi di sekolah.

Begitu kata Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra dalam seminar bertajuk 'Paham Eksklusif dan Radikalisme di Sekolah: Meninjau Ulang Kebijakan Negara dan Politik Pendidikan Islam' di Auditorium Utama FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (29/9).

Menurutnya, penemuan poin paham radikal dalam buku teks pelajaran siswa disebabkan karena adanya disorientasi di Kemendikbud. Terutama di Pusat Kurikulum Perbukuan (Puskurbuk).


"Karena birokrasi kita itu mengalami kekacauan. Kekacauan ini yang memicu tidak berjalannya proses-proses yang menjamin pendidikan itu berdasarkan Pancasila dan sebagainya," ujarnya.

Dalam birokrasi ini, duga Azyumardi, juga berhadapan dengan pihak tertentu yang melakukan infiltrasi. Menurutnya infiltrasi itu dilakukan secara sistematis oleh orang-orang tertentu yang memiliki paham agama kaku.

"Ini yang saya kira terjadi dan kita tidak banyak menyadari. Selama ini infiltrasi terjadi di masjid, lembaga sosial, dan rumah sakit," sambung mantan rektor UIN Jakarta itu.

Untuk menanggulangi masalah ini kembali terjadi, Azyumardi mengusulkan dibentuknya lajnah pentashih buku teks. Sehingga ada jaminan buku yang disebar aman untuk dikonsumsi para siswa.

"Maka saya mengusulkan adanya lajnah pentashih buku teks itu. Seperti pada Kemenag yang memiliki lajnah pentashih Al Quran. Jadi ada pembaca yang ahli," tandasnya.[wid]


Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Fenomena, Warga Sumsel Ramai-Ramai Siarkan Banjir Secara Live

Minggu, 05 April 2026 | 21:48

Besok Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri

Minggu, 05 April 2026 | 21:29

Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk

Minggu, 05 April 2026 | 20:57

Rekan Akmil Kenang Dedikasi Mayor Zulmi di Medan Tugas

Minggu, 05 April 2026 | 20:47

LPSK: RUU PSDK Harus Perkuat SIstem Perlindungan Saksi dan Korban

Minggu, 05 April 2026 | 20:31

JK: Saya Kenal Roy Suryo, Tapi Tak Pernah Danai Isu Ijazah Jokowi

Minggu, 05 April 2026 | 19:58

Simpan Telur di Kulkas, Dicuci Dulu atau Tidak?

Minggu, 05 April 2026 | 19:56

BRIN Ungkap Asa-Usul Cahaya Misterius di Langit Lampung

Minggu, 05 April 2026 | 19:15

Mayor Anumerta Zulmi Salah Satu Prajurit Terbaik Kopassus

Minggu, 05 April 2026 | 18:51

Terendus Skema Gulingkan Prabowo Lewat Rekayasa Krisis dan Kerusuhan

Minggu, 05 April 2026 | 18:33

Selengkapnya