Berita

Foto: Net

Bisnis

Miris, Indonesia Kekurangan Pasokan Garam

SENIN, 26 SEPTEMBER 2016 | 15:49 WIB | LAPORAN:

Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia yakni 54 ribu kilometer. Indonesia juga merupakan negara kepulauan terbesar, di mana luas lautan 2/3 luas wilayah.

Berdasarkan itu, muncul kesan seolah-olah Indonesia tidak pantas melakukan impor garam. Alasannya produksi garam tidak dilakukan di tengah laut, tetapi harus di darat (onshore). Selain itu, produksi garam juga sangat terpengaruh atas curah hujan, kondisi laut, dan ketersediaan lahan untuk membuat produksi garam lokal.

Begitu dikatakan oleh ekonom senior Faisal Basri.


"Fenomena di Indonesia tak kelebihan pasokan, tapi kekurangan pasokan (garam)," kata Faisal di Jakarta, Senin (26/9).

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, tahun 2014, kebutuhan garam Indonesia sebanyak 3,612 juta ton persen tahun. Sementara produksi garam lokal hanya sebesar 2,2 juta ton/tahun.

Di samping kekurangan pasokan ini, garam rakyat harganya juga sangat rendah, yakni berkisar Rp 200- Rp 300/kilogram. Padahal pemerintah tahun 2011 menetapkan, harga acuan garam untuk kualitas 1 (K1), sebesar Rp 750/kg, kualitas 2 (K2) Rp 550/kg. Kualitas garam lokal juga tidak memenuhi spesifikasi untuk digunakan bagi industri.

Menurut Faisal, Indonesia tidak akan bisa dipaksakan untuk mencapai swasembada garam, karena pengolahan garam lokal tidak menjadi fokus di tepi pantai. Pemerintah lebih cenderung mendorong penggunaan laut untuk sektor wisata dibanding mencetak lahan garam.

KKP sendiri telah mengucurkan dana Rp 200 miliar kepada PT. Garam, untuk membeli garam lokal produksi petani. Hal ini lantaran garam rakyat hanya sedikit yang dipergunakan, yakni untuk pengolahan ikan asin, sementara tidak cukup kualitasnya untuk industri.

Faisal menegaskan, kendati begitu, ia menjamin tidak ada praktek mafia dalam perusahaan importir garam. Tidak lebih dari 10 perusahaan yang diberikan oleh pemerintah sebagai importir garam. Garam rakyat harganya tertekan karena kualitas dan harganya jauh lebih rendah dibanding garam impor.

"Mafia itu nggak akan hidup kalau pemerintah tidak berikan izin. Nah kalau di garam, ini tertib, pelakunya nggak lebih dari 10 importirnya. Menurut saya tidak ada mafianya di garam," demikian Faisal.[wid]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya