Berita

Yusril (kiri) dan SBY (kanan)

Politik

Yusril: Akhirnya yang Mengemuka Egoisme Dan Kepentingan Perseorangan

JUMAT, 23 SEPTEMBER 2016 | 10:29 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Pakar hukum tata negara, Prof. Yusril Ihza Mahendra, mengaku sudah bertemu dengan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono jelang Pemilihan Gubernur DKI Jakarta sebelumnya. Bahkan, pertemuan tersebut sering dilakukan.

"Sudah berkali-kali," jelas Yusril dalam perbincangan dengan Kantor Berita Politik RMOL pagi ini.

Dalam setiap perbincangan, bahkan sejak awal, yang dibahas adalah keadaan ekonomi, sosial dan politik saat ini dan ke depan. Keduanya menilai negara dalam ancaman hegemoni asing karena itu harus berjuang bersama untuk mengantisipasi dan sekaligus untuk menegakkan kedaulatan negara.


"Terakhir beliau mengatakan saya perlu Pak Yusril untuk melawannya," sambung mantan Menteri Sekretaris Negara ini.

Setelah itu, karena SBY harus pergi keluar negeri, Yusril diminta untuk membangun komunikasi politik dengan sejumlah partai politik. Terutama, PPP, PKB dan PAN. "Beliau ke luar negeri, saya dekati partai lain," ungkap Yusril.

Meski pada awalnya ada perbedaan, sambung Yusril, akhirnya tiga partai tersebut sepakat untuk mengusungnya. Namun, dalam perkembangannya, SBY malah berkata sebaliknya. "Mana yang benar, kita bingung juga jadinya," ucap Yusril sambil tertawa kecil.

Dalam keadaan waktu yang sudah mendesak, sementara masih ada perbedaan pendapat di antara keempat tersebut, SBY mengusulkan anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono, sebagai calon gubernur. Sepengetahuan Yusril, peserta koalisi itu kaget.

"Menjelang akhir tidak bisa berbuat lagi. Nggak ada pilihan kecuali (PPP, PKB, dan PAN) menerima," bebernya.

Padahal, berdasarkan survei terakhir seperti dilansir CNN, elektabilitas Yusril sudah mencapai 47 persen meski belum dapat dukungan resmi dari partai. Jauh di atas Sandiaga S. Uno, yang sudah didukung Gerindra, apalagi Agus Harimurti. Elektabilitas Yusril tersebut mestinya sudah bisa menjadi modal melawan petahana.

"Tapi akhirnya, kan yang terjadi egoisme dan kepentingan perseorangan yang mengedepan dibanding perjuangan bersama. Ujungnya ada agenda terselubung," kata Yusril.

Dia juga melihat ada kekuatan lain yang menyeting agar petahana mendapat lawan lemah. Meski begitu, dia menerima, keputusan SBY dan koalisinya. "Tidak apa-apa, semua ini mengandung hikmah dan pelajaran," ucapnya. [Baca: Yusril: Selamat Kepada Pasangan Agus Dan Sylviana]

Namun, apa yang dialaminya ini, mengingatkannya terhadap figur yang ia hormati, Mohammad Natsir. Dalam satu kesempatan, tokoh Masyumi tersebut menyatakan "kita terlalu ikhlas dalam politik, terlalu percaya dengan orang lain dan merasa orang lain sebaik kita." Padahal, kenyataanya tidak selalu demikian.

"Air susu dibalas air tuba yang terjadi," jelas Ketua Umum Partai Bulan Bintang ini.

Karena dalam perjalanan politik sebelumnya, Yusril sudah acapkali mengubur ambisi pribadi demi kepentingan yang lebih besar. Pada tahun 1999 misalnya, dia mundur agar Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden RI. Padahal dalam hitungan-hitungan itu, suara Yusril bisa lebih tinggi dibanding Gus Dur.

Begitu juga pada saat pemilihan calon wakil presiden 2001 untuk mendampingi Megawati Soekarnoputri setelah Gus Dur lengser. Yusril tak mencalonkan diri untuk memberi kesempatan kepada Ketua Umum PPP Hamzah Haz. Bahkan tanpa dukungan Partai Bulan Bintang pada saat Pilpres 2004, SBY tak bisa maju sebagai calon Presiden.

"Saya memetik hikmah dan sekaligus introspeksi atas semua yang terjadi," sambungnya. [Baca: Yusril: Terima Kasih Kepada Warga Dan Para Tokoh Yang Selama Ini Mendukung Saya]

Meski begitu, bukan berarti Yusril kecewa berat lalu tak peduli dengan proses maupun hasil Pilkada DKI 2017 nanti. Dia tetap mengikuti karena tetap konsen dengan perjuangan bersama. Meski diakuinya, tentu tidak se-full seperti kalau dirinya yang maju sebagai calon.

"Harapan yang tersisa sudah terlalu minimal. Kalau sekiranya tokoh melawan petahana dan kekuatan politik dan ekonomi di belakangnya sebanding, kita akan sepenuh hati. Karena kita harap perubahan," ucapnya.

Namun sebelum melakukan langkah berikutnya, dia juga akan mengamati. Apakah calon yang diusung para lawan Ahok, termasuk Partai Gerindra dan PKS, serius melakukan perubahan di Jakarta.

Kalau menyiapkan calon hanya untuk kalah, apalagi ada transaksi di belakangnya agar Ahok mudah memenangkan Pilgub, Yusril ogah mendukung. [Baca: Ajukan Anak Sendiri, Cara SBY Memenangkan Ahok?]

"Saya sih ingin melihat. Kalau murni, kita akan bantu. Tapi kalau ada hitung-hitungan politik atau transaksional (di belakangnya), untuk apa (mendukung)," tandasnya. [zul]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Pakar HTN Sambut Baik Putusan MK Perkuat Kedudukan Hasil Audit BPK

Selasa, 21 April 2026 | 18:18

Refly Harun soal Info P21 Kasus Ijazah Jokowi: Itu Ngarang!

Selasa, 21 April 2026 | 18:17

Efek Domino MBG, Pendapatan Petani Naik 60 Persen

Selasa, 21 April 2026 | 18:13

Hadiah Hari Kartini: Pengesahan UU PPRT Lindungi Pahlawan Domestik

Selasa, 21 April 2026 | 18:04

Staf PBNU Mangkir dari Panggilan, KPK Siap Jadwal Ulang

Selasa, 21 April 2026 | 17:52

RUU PPRT Disahkan DPR Bukti Perempuan Hadir di Parlemen

Selasa, 21 April 2026 | 17:43

Peringati Hari Kartini, KPP: Perempuan Harus Aktif dari Suara ke Aksi

Selasa, 21 April 2026 | 17:42

Huawei Rilis Pura 90 Series, Ini Spesifikasi, Fitur Kamera, dan Harganya

Selasa, 21 April 2026 | 17:16

Staf Orang Kepercayaan Maidi Dicecar KPK soal Penampungan Dana CSR

Selasa, 21 April 2026 | 17:13

13 WNI Jadi Korban Kebakaran 1.000 Rumah Apung di Malaysia

Selasa, 21 April 2026 | 17:10

Selengkapnya