Berita

Joko Widodo/Net

Politik

Beri Karpet Merah Pada 'Penjajah', Jokowi Sebaiknya Mundur

SELASA, 06 SEPTEMBER 2016 | 18:24 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Presiden Joko Widodo terbukti tidak sanggup menyelamatkan Indonesia ke arah kemandirian. Dua tahun menakhodai negara, Jokowi malah menambah panjang daftar hitam investasi asing.

"Sebaiknya Jokowi mundur saja,"  kata Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo), Bastian P Simanjuntak dalam keterangannya kepada redaksi, Selasa (9/6).

Menurut dia pemerintahan Jokowi tak ada bedanya dengan pemerintahan Orde Baru, sama-sama menjalankan konsep ekonomi yang bergantung pada investasi asing. Dengan alasan untuk memperluas lowongan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan negara dari penerimaan pajak swasta, daftar negatif investasi yang dibuka untuk asing di era Jokowi bahkan semakin banyak dibandingkan era pemerintahan SBY.


Bastian pun yakin kehadiran Jokowi pada pertemuan negara G-20 di China saat ini akan menghasilkan keputusan yang menambah peran asing dalam ekonomi Indonesia.

"Survei yang kami lakukan, mayoritas pribumi tidak menyukai investasi asing. Mereka beralasan bahwa negara ini harus bangun oleh bangsa nya sendiri. Tidak mungkin bangsa lain membangun infrastruktur di negara kita tanpa pamrih, pasti ada udang di balik batunya," paparnya.

Dia mengatakan karpet merah yang diberikan Jokowi kepada investasi asing akan membuat Indonesia semakin kehilangan kedaulatan, dan pribumi semakin kehilangan identitas sebagai pemilik negeri ini.

Kini, kekhawatiran Indonesia jadi bancakan China dan Amerika benar-benar terjadi. China menguasai sektor mineral, migas, perkebunan, pertanian, manufaktur, infrastruktur, pembangkit listrik, dan perdagangan baik skala kecil maupun besar. Sedangkan Amerika akan terus mengambil migas dan mineral kita dalam skala besar.

"Negara Indonesia terlahir atas dasar sejarah panjang perlawanan rakyat pribumi terhadap dominasi investasi bangsa Eropa di Indonesia ditandai dengan pendirian pemerintahan Hindia Belanda oleh Belanda. Pribumi memiliki rasa trauma terhadap asing yang dianggap sebagai penjajah, jangan kita undang lagi para penjajah masuk ke negeri kita,"  tukas Bastian.[dem]


Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya