Berita

Foto/Net

Politik

Jakarta Butuh Gubernur Patriot

Catatan: Arief Gunawan, iniorangbiasa@yahoo.com
KAMIS, 01 SEPTEMBER 2016 | 10:09 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

WAKTU Ali Sadikin naik jadi gubernur (1966) inflasi sedang mencapai 650 persen. Perekonomian Indonesia sedang merosot secara luar biasa dan Jakarta sedang dalam keadaan berantakan.

Masyarakatnya mengalami krisis hampir di tiap sektor, krisis perumahan, krisis lapangan kerja, krisis transportasi, krisis hubungan telepon, krisis usaha, krisis sarana pendidikan dan sebagainya. Sementara itu Pemerintah Pusat tidak memberikan bantuan keuangan yang memadai karena memang lagi cekak.

Dalam keadaan sulit itu Bung Karno ingin ada sosok baru untuk memimpin Jakarta untuk membawa terobosan dan perubahan.


Menurut Leimena yang waktu itu menjabat Waperdam sebenarnya ada tiga jenderal yang diajukan sebagai calon, tetapi Bung Karno menolak. "Aku perlu orang yang keras, tegas, dan berani," kata Sukarno.

Bung Karno kemudian memanggil seorang yang koppig, seorang yang keras, a giant of a man, a nationalist, fighter, a visionary with a big heart, seorang Menko Maritim/Menteri Urusan Perhubungan Laut, yang waktu itu baru saja menempati pos baru sebagai Deputi Menteri Ekuin di bawah Menteri Sultan HB IX, dia tidak lain adalah Ali Sadikin.

Waktu dilantik di istana, 28 April 1966, Sukarno minta sama Bang Ali supaya menjadikan Jakarta sebagai nation pride yang bisa disaksikan oleh the next generation. Jakarta harus punya physical face yang waardig (wajah sehat, yang dihargai).

"Apa sebab saya memilih seorang gubernur dari Angkatan Laut? Oleh karena Jakarta ini kota pelabuhan. Saya memilih gubernur Jakarta dari satu orang yang mengetahui urusan laut dan urusan pelabuhan," kata Bung Karno sebagaimana ditulis wartawan/sastrawan terkemuka Ramadhan KH dalam buku Ali Sadikin Membenahi Jakarta Menjadi Kota Yang Manusiawi.

Seperti diketahui dan tercatat sejarah, di bidang kelautan Bang Ali antara lain pernah menjabat sebagai Deputi Kepala Staf Angkatan Laut, Menko Maritim dan Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikora di bawah Presiden Sukarno.

Kas Pemda Jakarta waktu Bang Ali masuk jadi gubernur total cuma 66 juta rupiah, itu dari pungutan daerah dan subsidi dari pusat, sehingga Bang Ali harus putar otak menutupi kekurangan anggaran. Dengan integritas moral yang tinggi walaupun ada bumbu-bumbu kontroversi seperti kita ketahui Bang Ali kemudian meninggalkan banyak legacy buat kota Jakarta, yang notabene sekarang legacy-legacy itu banyak ditelantarkan oleh Ahok, bahkan mulai digusur.

Bang Ali adalah patriot, bukan model gubernur sok jagoan seperti Ahok. Dia melakukan pendekatan "what is wrong" dan bukan "who is wrong".

Salah satu yang saya ingat dari Bang Ali di tahun 1990-an kalau berkunjung (meliput) ke kediamannya di Jalan Borobudur yang letaknya berseberangan dengan rumah Sudomo, adalah sebuah potret Presiden Sukarno dalam ukuran besar di salah satu ruang tamu, dalam pesona yang charmant.

Bang Ali kalau berbicara selalu keras, baik content maupun intonasinya, kepada yang muda selalu memberikan motivasi, tetapi Bang Ali benar seorang yang lembut hati, seorang yang menjaga decency, sebagaimana seorang patriot sejati.

Lebaran Idul Fitri 2004 misalnya Bang Ali datang ke rumah Soeharto untuk kasih selamat, datang ke kediaman orang yang selama bertahun-tahun menzaliminya, untuk bersilaturrahim, memberikan contoh keteladanan sebagai seorang patriot sejati, sebagai seorang nation builder, seperti halnya Bung Karno.

Sebagai gubernur yang dikenang karena jasa-jasanya terutama oleh rakyat kecil. ***

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

Komisi III DPR Sambut KUHP dan KUHAP Baru dengan Sukacita

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:12

Bea Keluar Batu Bara Langkah Korektif Agar Negara Tak Terus Tekor

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:08

Prabowo Dua Kali Absen Pembukaan Bursa, Ini Kata Purbaya

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:07

Polri Susun Format Penyidikan Sesuai KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:06

Koalisi Permanen Mustahil Terbentuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:01

Polri-Kejagung Jalankan KUHP dan KUHAP Baru Sejak Pukul 00.01 WIB

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:58

Tutup Akhir Tahun 2025 DPRD Kota Bogor Tetapkan Dua Perda

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:46

Presiden Prabowo Harus Segera Ganti Menteri yang Tak Maksimal

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:42

Bitcoin Bangkit ke Level 88.600 Dolar AS

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Berjualan di Atas Lumpur

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Selengkapnya