Berita

Foto :Net

Bisnis

Pertuni Minta Hak Penyandang Cacat, Bukan Dikasihani

SENIN, 22 AGUSTUS 2016 | 10:12 WIB | LAPORAN:

Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Tuna Netra Indonesia (DPP Pertuni) mendesak pemerintah agar menyediakan ruang publik yang memadai bagi kaum tuna netra.

Sebab hingga saat ini, fasilitas umum bagi tuna netra, baik di Jakarta maupun di daerah di seluruh Indonesia masih minim.

"Fasilitas itu diberikan bukan karena kasihan, tapi itu hak kami. Kami selama ini juga bayar pajak. Kami juga berharap agar stigma baru tentang tuna netra bukan hanya dikaitkan dengan masalah charity, tapi tuna netra bisa jadi subyek pembangunan di Indonesia," ujar Ketua II DPP Pertuni Mahretta Maha di Jakarta Minggu (22/8) malam.


Dia mencontohkan saat para tuna netra sedang berjalan kaki, tak ada trotoar yang bisa dipakai secara nyaman. Seringkali para pengendara motor menyenggol tongkat pengguna jalan trotoar. Sedangkan untuk pengendara mobil terkesan tidak sabar lantaran membunyikan klakson.

"Semestinya, kalau sudah tahu itu tuna netra ya diberi jalan. Tongkat yang dibawa tuna netra itu jelas, ada tanda merah dan itu sudah standar internasional. Ketika di penyeberangan, mestinya kalau tongkat diangkat ke atas, pengendara juga berhenti," tegas dia.

Pertuni Sabtu lalu (20/8) menggelar acara Bakti Sosial Operasi Katarak di Klinik Matanya Tebet. Baksos tersebut juga dihadiri Dewan Pembina DPP Pertuni Sjafrie Sjamsoeddin. Mantan wakil menteri pertahanan ini ikut mengobrol bersama pasien yang mengikuti operasi.

Operasi katarak ini merupakan program kedua DPP Pertuni setelah sebelumnya digelar di Solo, Yogyakarta dan Semarang pada awal tahun 2016. Menurut Mahretta, pihaknya akan terus membuatkan program bagi warga tak mampu yang bermasalah dengan mata. Apalagi, Indonesia tercatat sebagai negara urutan kedua dengan penduduk penderita katarak terbanyak setelah Etopia.

"Kami akan terus berusaha untuk melakukan kegiatan seperti ini dan rencananya saat Hari Penglihatan Sedunia pada Oktober mendatang. Tapi ada sedikit kendala di birokrasi karena cari katarak begini harus sepengetahuan dari dinas-dinas terkait. Itu yang menyulitkan," ucapnya.[wid]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

UPDATE

Fakta Sidang Blueray Cargo: Kode BC1 Mengarah ke Djaka Budi Utama

Senin, 15 Juni 2026 | 18:15

Anak Buah Bahlil Irit Bicara Usai 7 Jam Diperiksa KPK

Senin, 15 Juni 2026 | 18:08

KPU Patok Anggaran Rp4,6 Triliun di Tahapan Awal Pemilu 2029

Senin, 15 Juni 2026 | 17:59

IHSG-Rupiah Menguat Sore Ini Usai AS-Iran Sepakat Damai

Senin, 15 Juni 2026 | 17:47

Demo Mahasiswa Ucapkan Selamat Atas Kegagalan Prabowo-Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 17:46

Wapres Gibran Terima Perwakilan Mahasiswa di Tengah Unjuk Rasa

Senin, 15 Juni 2026 | 17:23

Sifra Kejar Cita-cita di Sekolah Rakyat Demi Bantu Orang Tua Disabilitas

Senin, 15 Juni 2026 | 17:19

Demi Kepercayaan Masyarakat, Mahasiswa UBK Desak MBG Dihentikan

Senin, 15 Juni 2026 | 17:06

Komisi II DPR: KPU dan Bawaslu akan Tetap Eksis di 2027

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

DPR Minta Kejagung Tingkatkan Anggaran Perkara untuk Kejati dan Kejari

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

Selengkapnya