Berita

Dunia

Presiden Filipina Ancam Dirikan PBB Tandingan

SENIN, 22 AGUSTUS 2016 | 07:37 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ketegangan antara Filipina dan PBB terus berlanjut. Presiden Rodrigo Duterte mengancam akan membawa negaranya keluar dari PBB dan mendirikan lembaga tandingan seperti PBB.

Demikian antara lain disampaikan Duterte dalam pernyataannya Minggu dinihari (21/8).

Duterte terlihat benar-benar marah pada PBB yang mengecam tindakannya memberantas sindikat obat-obatan terlarang di Filipina. Sejauh ini disebutkan sekitar 1.000 anggota sindikat narkoba telah ditembak mati.


Kalian PBB tidak ada gunanya. Bila kalian benar-benar bekerja untuk mandat kalian, bisakah kalian menghentikan semua perang… Kapan PBB benar-benar bersatu? PBB tidak bisa menghentikan Amerika Serikat, PBB tidak bisa menghentikan Rusia. PBB tidak bisa menghentikan semua pengeboman,” katanya dengan nada tinggi.

Masalah PBB adalah mengijinkan perang, tetapi tidak tahu bagaimana menghentikannya,” sambung Duterte merujuk pada situasi perang di Irak dan Suriah.

Pernyataan PBB, masih kata Duterte, menyinggung dan mengintervensi kedaulatan Filipina.

Duterte yang berkuasa di Filipina sejak 30 Juni lalu mengatakan, dirinya tidak mendengar PBB mengecam Amerika Serikat atas pembunuhan terhadap warga kulit hitam di sana.

Saya tidak membaca siapapun dari lembaga bodoh itu yang mengecam pembunuhan itu,” katanya lagi.

Duterte juga mengatakan Pelapor Khusus PBB Agnes Callamard harus bertemu dirinya untuk membuktikan bahwa Callamard adalah pakar yang bodoh.

Pakar hukum PBB, kemari dan bertemu muka dengan saya, dan buatlah tuduhan di depan saya. Saya akan memperlihatkan statisktik padamu, dan akan memegang jarimu untuk mengajarkanmu berhitung,” kata Duterte.

Duterte sangat terganggu dengan tindakan Callamard yang mengeluarkan pernyataan bahwa eksekusi tanpa pengadilan yang dilakukan terhadap sekitar 1.000 pengedar narkoba Filipina sebagai kejahatan kemanusiaan.

Anda tidak bisa menyampaikan pernyataan melawan negara lain. Anda sepertinya melawan protokol saling menghormati. Dan sekarang Anda ingin saya menghormati Anda?” masih ujar Duterte.

Setelah itua mengatakan, negaranya bisa saja meninggalkan PBB, dan mendirikan lembaga seperti PBB. [dem]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

JK Bukan Pelaku Penista Agama

Rabu, 22 April 2026 | 04:11

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

Rabu, 22 April 2026 | 03:37

GoSend Rilis Fitur Kode Terima Paket

Rabu, 22 April 2026 | 03:13

Disita Aset Rp2 Miliar dari Safe Deposit Box Pejabat Bea Cukai

Rabu, 22 April 2026 | 03:00

Rano Tekankan Integritas CPNS Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 22 April 2026 | 02:24

Pegawai BUMN Dituntut Tangkal Narasi Negatif terhadap Pemerintah

Rabu, 22 April 2026 | 02:09

Ibrahim Arief Merasa Jadi Kambing Hitam Kasus Chromebook

Rabu, 22 April 2026 | 02:00

Keluarga Nadiem Adukan Dugaan Kejanggalan Kasus Chromebook ke DPR

Rabu, 22 April 2026 | 01:22

Fahira Idris: Perempuan Jadi Tumpuan Indonesia Maju 2045

Rabu, 22 April 2026 | 01:07

Dony Oskaria: Swasembada Pangan Nyata Bukan Hoaks

Rabu, 22 April 2026 | 01:03

Selengkapnya