Berita

Politik

Mahasiswa Baru FH UNS Siap Jaga Keutuhan NKRI

MINGGU, 21 AGUSTUS 2016 | 00:41 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Sekitar 500 mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, Surakarta (FH UNS) menyatakan kesediaannya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat mereka kelak memimpin Indonesia dalam kurun waktu 15 tahun. Ratusan mahasiswa baru itu disebut sebagai Anak Reformasi yang sebagian besar lahir tahun 1998, saat ada perubahan politik di Indonesia.
 
Pernyataan tersebut muncul dalam dialog bersama Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), AM Putut Prabantoro, yang hadir atas undangan panitia pembekalan mahasiswa baru FH UNS, Jumat (19/8).

Putut Prabantoro yang juga alumnus FH UN tersebut hadir dengan memberikan materi Implementasi Pancasila Dalam Peraturan Hukum Di Indonesia." Dijelaskan oleh Putut, mereka yang lahir tahun 1997, 1998 dan 1998 adalah Anak Reformasi. Anak Reformasi ini adalah mereka yang saat ini menjadi mahasiswa baru dan dalam waktu 15 tahun lagi, sebagian dari mereka akan menjadi pemimpin negara dan bangsa Indonesia.
 

 
Oleh Putut Prabantoro diingatkan bahwa Anak Reformasi harus mengerti siapa dirinya, karena mereka lahir dan tumbuh dalam situasi dan kondisi bangsa yang tidak baik. Kelahiran mereka diwarnai dengan banyak kasus yang tak terselesaikan seperti kasus mall-mall terbakar dengan memakan korban, ada kasus Semanggi dan Trisakti yang belum terselesaikan, politik uang dan korupsi yang telah membudaya, pemimpin bangsa tanpa keteladanan dan munculnya raja kecil karean diberlakukannya otonomi daerah.
 
"Kita semua tidak tahu masa depan kalian akan seperti apa. Namun kalian adalah generasi baru yang kelak akan memimpin negara Indonesia jika waktunya tiba. Mahasiswa baru sekarang menjadi istimewa karena kalian adalah Anak Reformasi yang tumbuh saat negara dalam gundah gulana sementara para pemimpinnya tidak memberikan teladan yang seharusnya. Ketika semua sibuk berpolitik, kalian tumbuh yang hanya ditemani oleh gadget. Anda semua tumbuh dalam kesepian sekalipun di luar sana hiruk pikuk," ujar Putut Prabantoro.
 
Oleh karena, Putut Prabantoro yang konsultan komunikasi publik itu mengingatkan, para mahasiswa harus lebih mencintai NKRI dan Pancasilanya karena justru belajar dari pengalaman buruk ketika dilahirkan. Disebutkan ada 5 (lima) Ancaman dan tantangan utama NKRI dan Pancasila yang utama ketika Anak Reformasi menjadi pemimpin negara dan bangsa.
 
Ancaman dan tantangan itu meliputi, terorisme, globalisasi (proxy war), disintegrasi, narkoba dan korupsi. Kelima ancaman itu tidak mungkin dapat ditanggulangi atau dilawan jika para pemimpin bangsa lima belas tahun kedepan tidak pernah mengerti hakekat NKRI dan Pancasilanya.
 
"Pancasila tidak bisa dilepaskan dari NKRI. Pancasila itu roh dari NKRI dan falsafah hidup bangsa Indonesia. Jika Pancasila digantikan dengan dasar lain, NKRI tidak ada lagi di dunia ini. Oleh karena itu, Banyaknya perda yang mulai dihapuskan atau dikembalikan karena substansi dari peraturan tersebut bertentangan dengan nilai Pancasila," ujar Putut Prabantoro.
 
Pancasila, Putut menambahkan, adalah anugerah dari para pendiri negara kepada bangsa Indonesia yang hidup sekarang. Sama halnya, ketika dilahirkan ke dunia, apa yang ada dalam diri masing-masing, suku, agama, orang tua, tempat kelahiran adalah merupakan anugerah semata.
 
"Setiap orang tidak dapat memilih dilahirkan sebagai suku apa, orangtuanya siapa, kaya atau miskin, serta tempat dan tanggal kelahirannya. Indonesia yang pluralis karena banyaknya suku, agama, bahasa dan budaya dan Pancasila sebagai dasar negara adalah anugerah semata bagi kita semua dan itu harus dipertahankan sampai kapanpun," ujarnya. [ysa]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Pelindo Dukung Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Integrasi Rantai Pasok Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16

Indonesia Harus Tegas Tolak LGBT!

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:08

Catatan HUT ke-80 Polri

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:40

Bobby Nasution Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari dengan Biaya Talangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:20

Ekodiplomasi di antara Geopolitik dan Kedaulatan Konservasi Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:01

Danantara Sedang Membersihkan Warisan Lama BUMN

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Hibah KNPI Kabupaten Bogor Menuai Polemik di Tengah Konflik Internal

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Ketua MPR Bicara Islam Toleran dan Persatuan saat Bertemu Grand Mufti Uzbekistan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:55

Papua Harus Dibangun Tanpa Kehilangan Manusianya

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:45

DPR Minta Transparansi Rencana Pengadaan Rudal BrahMos

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:44

Selengkapnya