Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Doa

KAMIS, 18 AGUSTUS 2016 | 12:20 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DOA wajar dilakukan oleh manusia. Namun sebuah doa memang bisa menjadi luar biasa menggemparkan akibat diberitakan secara gegap-gempita oleh media massa apalagi media sosial.

Misalnya, petikan dari doa sebagai berikut :

"Wahai Allah, memang semua penjara overcapacity tapi kami tidak melihat ada upaya untuk mengurangi kejahatan karena kejahatan seperti diorganisir ya Allah. Kami tahu pesan dari sahabat Nabi Nuh bahwa kejahatan-kejahatan ini bisa hebat bukan karena penjahat yang hebat tapi karena orang-orang baik belum bersatu atau belum mempunyai kesempatan di negeri ini untuk membuat kebijakan-kebijakan yang baik yang bisa menekan kejahatan-kejahatan itu.


Biarlah kehidupan ekonomi kami, Bung Karno sangat khawatir bangsa kami akan menjadi kuli di negeri kami sendiri. Tapi hari ini, sepertinya kami kehilangan kekuatan untuk menyetop itu bisa terjadi. Lihatlah Allah. Bumi kami yang kaya dikelola oleh bangsa lain dan kulinya adalah bangsa kami. ya rabbal alamin. Kehidupan sosial budaya, seperti kami kehilangan jati diri bangsa ini, yang ramah, yang santun, yang saling percaya. kami juga belum tahu bagaimana kekuatan pertahanan dan keamanan bangsa ini kalau suatu ketika bangsa lain menyerang bangsa kami.

Ya rahman ya rahim tapi kami masih percaya kepadaMu, bahwa kami masih menadahkan tangan kepadamu artinya engkau adalah Tuhan kami, Engkau adalah Allah YME. Jauhkan kami dari pemimpin yang khianat yang hanya memberikan janji-janji palsu, harapan-harapan kosong, dan kekuasaan yang bukan untuk memajukan dan melindungi rakyat ini, tapi seakan-akan arogansi kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat."

Doa tersebut menjadi luar biasa akibat dipanjatkan anggota DPR RI dari Faksi Gerindra, Raden Muhammad Syafii sebagai doa penutup pada Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I Tahun Sidang 2016-2017 dan Pidato Presiden RI dalam rangka Penyampaian RUU Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2017.

Doa yang dipanjatkan  di hadapan Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan jajaran Kabinet Kerja tersebut, menjadi menggemparkan akibat sudah divideokan dan diunggah ke laman YouTube.

Kegemparan menjadi makin gempar, setelah media massa dan media sosial sibuk memberitakannya dengan berbagai predikat yang mempengaruhi opini publlk secara negatif bahkan destruktif sebab potensial mengadu-domba rawan memecah-belah sesama bangsa sendiri. Apalagi karena doa kebetulan dipanjatkan oleh seorang anggota parpol yang berseberangan posisi dengan pemerintah yang sedang berkuasa.

Doa menjadi rawan ditafsirkan sebagai sinisme, cemooh, hujatan, provokasi bahkan cacimaki.. Apabila kita simak doa Muhammad Syafii dengan nurani tulus bersih dari beban kepentingan politis, sebenarnya doa itu merupakan ungkapan sanubari seorang warga Indonesia yang mengharapkan Indonesia di masa depan menjadi lebih baik ketimbang masa kini.

Sekadar sebagai suatu terawang das Sollen terhadap das Sein. Indah, apabila kita berkenan bersama menyimak makna harapan yang tersurat dan tersirat di dalam doa Muhammad Syafii demi bersama melakukan mawas diri terhadap apa yang sedang kita lakukan di Tanah Air tercinta kita bersama ini.

Kemudian dengan bekal hasil upaya mawas diri akibat doa itu, marilah kita bersama bukan saling tuding-menuding, jegal-menjegal apalagi jotos-menjotos namun saling bahu-membahu dalam  bergotong-royong berupaya memperbaiki apa yang keliru di masa kini demi membentuk masa depan yang lebih baik bagi bangsa, negara dan rakyat Indonesia. MERDEKA!

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Purbaya Siapkan Sanksi bagi Importir Buntut Kontainer Menumpuk

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:21

Kebakaran Rumah di Palmerah, 17 Unit dan 85 Personel Damkar Dikerahkan

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:05

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Widiyanti Putri Wardhana dan Nusron Wahid Layak Direshuffle

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:38

Kompetisi Ketapel Antar ASN

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:19

Buzzer Jokowi Jangan Dulu Pesta, P21 Bukan Vonis Pengadilan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:00

Investor Asing Laporkan Dugaan Penyalahgunaan Dana Proyek Marina Bay City ke Polda Bali

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:48

Kritik Rocky Gerung, Gumarang: Menteri Keuangan Bukan Sekadar Kasir

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:27

State-Driven Economy untuk Hentikan Ketimpangan dan Ketergantungan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:57

Puluhan Miliar Dana Investasi Dipersoalkan, Siapa Bertanggung Jawab di Marina Bay City?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:33

Selengkapnya