Berita

natalius pigai/net

Politik

Cerita Natalius Pigai Soal Tawaran Dari Luhut Dan Gories

JUMAT, 29 JULI 2016 | 16:45 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, mengumbar kisah penolakannya terhadap tawaran Luhut Panjaitan untuk memimpin badan otorita dengan anggaran Rp 21 triliun.

Dalam pengakuan yang disebar lewat pesan elektronik kepada wartawan, Natalius mengatakan kejadiannya pada sekitar tiga minggu lalu. Saat itu Luhut masih menjabat Menko Polhukam. Pagi-pagi benar ada pesan singkat lewat WhatsApp dan SMS juga panggilan telepon berkali-kali yang tak terjawab.

"Menkopolhukam Jenderal Luhut Binsar Panjaitan ingin ajak makan siang di kantornya," cerita Natalius tentang isi pesan yang masuk ke ponselnya.


Ia menyanggupi permintaan itu. Ia menemui Luhut di kantor Kemenko Polhukam. Di sana sudah ada tokoh militer Sintong Panjaitan serta Staf Khusus Menko Polhukam, Lambock V. Nahattands.

"Setelah berbagai pembicaraan beliau menawarkan sebuah jabatan untuk memimpin Badan Otorita dengan anggaran fantastis Rp 21 Triliun," ungkap Natalius.

Ia mengaku tidak kaget akan tawaran itu karena pada 2014 pun ia pernah dijanjikan jabatan di salah satu kementerian oleh Luhut sendiri, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Natalius juga mengaku telah mengenal Joko Widodo sebelum menjadi Presiden. Jokowi sering menelepon terkait pembangunan di Jakarta.

"Saya menolak dengan halus tanpa mengurangi rasa penghormatan, sembari mengucapkan terima kasih. Saya belum berbuat apa-apa di Komnas HAM, namun tidak sedikit pencari keadilan membutuhkan uluran tangan kita," katanya.

Natalius mengatakan ke Luhut, Komnas HAM adalah terminal akhir pengaduan di tengah ketidakadilan hukum, karena itu ia ingin menyelesaikan tugas di Komnas HAM.

"Kemudian beliau (Luhut) agak marah dan berkata, 'oke kalau begitu sambil tunggu reshuffle kabinet bantu saya di Kemenkopolhukam sebagai staf khusus'. Lagi-lagi saya sampaikan terima kasih atas kepercayaan ini. Saya masih mencintai Komnas HAM," ungkap dia

Natalius kemudian menceritakan tawaran meninggalkan Komnas HAM juga ia terima dari Staf Khusus Presiden bidang Intelijen, Gories Mere, bersama tokoh independen, Hendropriyono, pada 25 Juli lalu di kawasan Kuningan, Jaksel. Ada juga pengamat politik Universitas Indonesia yang juga Komisaris Antara, Bonie Hargens.

"Mereka bertanya tentang masalah Papua dan juga soal jabatan di negeri ini, jawabanku hanya satu 'saya tidak paham dan tahu politik karena saya hanya seorang pembela kemanusiaan, jadi kalau bicara politik silakan bertanya kepada orang-orang kompeten'," jelasnya.

Natalius yakin, di tengah suasana jelang reshuffle kemarin banyak tokoh yang menanti panggilan Istana Negara. Tapi ia memutuskan tetap turun ke lapangan menemui para pencari keadilan.

"Hidup saya adalah hanya bekerja dan bekerja dan bekerja. Namun pertanyaan saya, mengapa saya yang ditawarkan jabatan, kenapa saya yang ditanya tentang masalah membelit di negeri ini. Aku mah apa atuh," tutup Natalius. [ald]

Populer

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

UPDATE

Corak Kita di Mata Marx

Kamis, 29 Januari 2026 | 06:01

Hoaks Tersangka Putriana Dakka Dilaporkan ke Divisi Propam Mabes

Kamis, 29 Januari 2026 | 05:55

Pelukan Perkara Es Jadul

Kamis, 29 Januari 2026 | 05:29

Eggi Sudjana: Roy Suryo Belagu, Sok Merasa Hebat

Kamis, 29 Januari 2026 | 05:12

Sekda Jateng Turun Tangan Cari Pendaki Hilang di Bukit Mongkrang

Kamis, 29 Januari 2026 | 05:00

Polisi Pastikan Seluruh Karyawan Pabrik Swallow Medan Selamat

Kamis, 29 Januari 2026 | 04:31

Mengenal Luluk Hariadi, Tersangka Korupsi Pengadaan Baju Ansor Rp1,2 Miliar

Kamis, 29 Januari 2026 | 04:17

Tanggung, Eggi-Damai Lubis Harusnya Gabung Jokowi Sekalian

Kamis, 29 Januari 2026 | 04:11

Eggi Sudjana: Tak Benar Saya Terima Rp100 Miliar

Kamis, 29 Januari 2026 | 03:40

Hukum Berat Oknum Polisi-TNI yang Tuduh Penjual Es Gabus Jual Produk Berbahan Spons

Kamis, 29 Januari 2026 | 03:08

Selengkapnya