Berita

Politik

Politik Kekuasaan

JUMAT, 29 JULI 2016 | 11:58 WIB | OLEH: RICO SINAGA

HARI ini kita dipertontokan permainan akrobat politik tingkat tinggi. Dalam waktu singkat manuver Golkar yang mendeklarasikan dukungan terhadap Presiden Joko Widodo yang notabene bukan kader bahkan terpilih pada pemilu 2014 yang lalu hasil kerja keras koalisi yang dimotori oleh partai pemenang pemilu legislatif PDI Perjuangan.

Hal ini bukan suatu kebetulan. Dengan pengalaman menjadi partai penguasa di pemerintahan, karakter politik Golkar tidak akan pernah jauh dari kekuasaan, mereka tidak terbiasa menjadi oposisi seperti PDIP.

Menariknya buah dari kemenangan PDIP baik di legislatif maupun pilpres kemarin seolah pupus dengan dukungan Golkar untuk menjadikan Presiden Jokowi maju untuk kedua kali pada pilpres yang akan dtatang. Manuver Golkar terhadap Jokowi tidak berdiri sendiri, namun satu paket dengan dukungan Golkar secara bulat unutk mendukung Basuki Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta pada pilkada 2017. Walau punya catatan yang tidak sebaik dalam hubungan berpartai namun inilah politik tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi, semua hanya kepentingan.


Pilpres 2019, tidak terlepas dari perubahan politik ibukota Jakarta. Setelah kader PDIP yang saat ini duduk sebagai Presiden sudah didukung oleh Partai Golkar, bahkan Gubernur DKI Ahok yang diusung pada Pilkada 2012 oleh PDIP juga sekarang sudah dideklarasikan oleh Golkar. Akankah PDIP sebagai partai pemenang Pemilu akan jadi "pengekor" atau larut dalam gendang permainan partai Golkar, kita lihat dalam waktu dekat ini apa yang akan terjadi. Pertaruhan pilpres ada di pilkada Jakarta 2017.

Bila PDIP hanya ingin menjadi pengekor atau menjadi penantang akan menjadi gambaran kontestasi pemilu 2019. Selamat berjuang kawan, jagan mengulangi kesalahan yang sama. Merdeka!!!!

Penulis adalah Ketua Aliansi Masyarakat Jakarta (Amarta), Alumni GMNI

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya