Berita

foto:net

On The Spot

Sudintamkam Tusuk-tusuk Makam Fiktif Pakai Besi

Cari Kuburan Tanpa Jenazah Di TPU Pondok Ranggon
RABU, 27 JULI 2016 | 09:19 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Di tengah teriknya matahari, beberapa petugas Suku Dinas Pertamanan dan Pemakaman (Sudintamkam) berkumpul di area Blok AA1 Unit Islam Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur.

Dengan membawa cangkul dan besi panjang, mereka ber­jalan pelan sambil mencermati satu per satu tulisan yang berada di batu nisan. Mereka sesekali berhenti pada makam tertentu, kemudian menusukkan besi panjang ke makam tersebut.

Para petugas tersebut ber­henti di makam yang dicurigai fiktif. Hal itu diketahui dari berbagai pemeriksaan, mulai dari pengecekan di database hingga melakukan identifikasi ke makam-makam tersebut. Sementara itu, menusuk makam menggunakan besi untuk me­mastikan, makam tersebut terisi atau tidak.


"Kalau makamnya asli, di­tusuk pakai besi panjang pasti tembus sampai bawah. Kalau yang fiktif, tidak tembus sam­pai bawah," ujar Kepala TPU Pondok Ranggon yang baru, Jasmin Rifa'i Siregar di TPU Pondok Ranggon, kemarin.

Menurutnya, langkah tersebut supaya tidak merusak makam yang ada. Selain itu, lebih prak­tis. "Kalau ada jasad di dalam­nya, kondisi tanahnya empuk. Kalau kosong, tanahnya keras," ucapnya.

Jasmin menyatakan, cara lain mengenali makam fiktif, yakni berdasarkan keterangan yang ditulis di nisan. Jika makam itu asli, maka akan tertulis lengkap nama, tanggal lahir dan tanggal meninggal. Jika makam tersebut fiktif, maka keterangan yang tertera hanya nama. "Makam yang fiktif, batu nisannya juga masih ditulis pakai spidol. Selain itu, akar rumput yang tumbuh di atas nisan juga sudah panjang," sambungnya.

Benar saja, di salah satu makam yang tidak ada tanggal kelahiran dan kematiannya, besi yang ditusukkan tidak tembus dalam. Besi tersebut hanya me­lesak ke tanah beberapa centime­ter. Seperti ada benda keras yang menahan besi tersebut untuk menancap lebih dalam.

Kemudian, giliran Petugas Harian Lepas (PHL) yang be­raksi. Berbekal cangkul, dia menggali makam tersebut. Petugas Sudintamkam juga tidak berdiam diri. Mereka ikut mem­bantu dengan berusaha menco­pot batu nisan.

Sekitar 15 menit kemudian, terbongkarlah seluruh makam ini. Tidak ada liang lahat di balik rumput yang tadinya tumbuh di atas makam itu. Yang berada di baliknya hanya tanah datar beru­kuran 1x1 meter persegi.

Hal serupa ditemui ketika para PHL membongkar satu makam lainnya. Di balik rumput yang sebelumnya tumbuh di atasnya, hanya ada tanah datar. Tidak ada liang lahat atau jenazah di makam tersebut.

Jasmin mengatakan, pem­bongkaran ini merupakan tindak lanjut atas temuan sebelum­nya. Sejauh ini, baru ada 28 makam fiktif yang teridenti­fikasi pihaknya. Tapi yang digali hingga kemarin, baru 10 makam fiktif.

"Senin kemarin ada delapan makam dan hari ini hanya dua makam yang dibongkar. Sisanya dibongkar menyusul nanti, sam­bil dilakukan identifikasi ulang," terang Jasmin.

Dia menuturkan, pembong­karan makam ini diprioritaskan terhadap makam yang sudah tidak memiliki ahli waris sama sekali. Hal itu diketahui dari data administrasi pemakaman yang dimiliki pihaknya. "Karena tidak ada ahli warisnya, maka kami bongkar. Lagi pula bin­gung juga manggilnya ke mana karena tidak ada ahli warisnya," tuturnya.

Kendati demikian, Jasmin meminta agar ahli waris 18 makam fiktif lain yang telah diidentifikasi, mendatangi kan­tor pengelola. Tujuannya, agar petugas bisa membongkar siapa saja yang terlibat. "Masalahnya, sejak pembongkaran dilakukan, belum ada satu pun ahli waris yang datang," sesalnya.

Padahal, ucap Jasmin, apa­bila pemilik makam datang, pihaknya bisa mengetahui siapa saja oknum yang terlibat dan membongkar mafia makam fik­tif. Sehingga, praktik jual beli makam di TPU Pondok Ranggon bisa diberantas.

"Apabila si pemilik makam ke TPU, maka tidak tertutup kemungkinan uang booking itu bisa dikembalikan. Sedangkan oknum yang bersangkutan bisa diberikan sanksi," tegasnya.

Menurut Jasmin, para perawat makam mengaku tidak ada yang tahu tentang jual beli makam tersebut. Kalaupun tahu, kata dia, mereka memilih tutup mu­lut. Oleh sebab itu, pihaknya meminta kepada ahli waris makam fiktif agar segera me­lapor. "Makanya, kami berharap agar si pemilik makam segera datang ke sini," katanya.

Jasmin menduga, ada dua motif utama pemesan makam fiktif ini. Pertama, ahli waris ingin jenazah keluarganya di­makamkan dekat dengan kelu­arga. Kedua, pemesan khawatir tidak mendapatkan lahan di TPU tersebut, sehingga memesan makam fiktif. "Paling mungkin dua itu," tandasnya

Namun, pria yang baru tiga bulan menjabat sebagai Kepala TPU Pondok Ranggon ini, men­gaku belum tahu berapa tarif yang dikenakan dan bagaimana rantai pemesanannya. Dia menyatakan masih mendalami masalah ini. "Oknum yang melakukan belum diketahui, karena dari internal pengurus TPU ngakunya tidak tahu," sambungnya.

Jasmin pun berjanji, pihaknya akan terus melakukan pemerik­saan terhadap makam-makam yang dicurigai fiktif di TPU Pondok Ranggon. Pihaknya juga akan tetap menggunakan besi pancang untuk mengetahui apakah di dalamnya ada jasad atau tidak. "Intinya kami masih terus melakukan pemeriksaan di makam-makam untuk menemu­kan yang fiktif," tandasnya.

Kasudin Pertamanan dan Pemakaman (Sudintamkam) Jakarta Timur, Christian Tamora Hutagalung menambahkan, pihaknya hanya memakai pand­uan dari Dinas Pertamanan dan Pemakaman untuk mengidenti­fikasi makam fiktif. Misalnya, makam tersebut ada gundukan tapi tidak ada nisan, atau ada nisan tapi tidak ada gundukan, dan dicek menggunakan alat. "Kami pakai besi, kalau ditusuk keras atau sampai besinya beng­kok, berarti fiktif. Kalau besinya masuk dalam, berarti benar ada makamnya," jelasnya. ***


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

UPDATE

Gudang yang Terbakar di Cikarang Milik PT Emudah Fulfillmen, Penyedia Jasa Logistik E-Commerce

Sabtu, 26 September 2026 | 16:18

Mahkamah Agung Diminta Periksa Dugaan Kejanggalan Perkara Harta Bersama

Sabtu, 26 September 2026 | 15:28

SBY: Guruh Soekarnoputra Telah Melakukan Banyak Hal untuk Negeri Ini

Sabtu, 26 September 2026 | 15:03

Dulu Dipandang Sebelah Mata, Kini Dunia Barat Mulai Melirik Halal Indonesia

Sabtu, 26 September 2026 | 14:50

Sinyal Damai AS-Iran Bikin Harga Minyak Terpukul

Sabtu, 26 September 2026 | 14:26

Surya Paloh Kenang Guruh sebagai Budayawan dan Seniman

Sabtu, 26 September 2026 | 14:05

Palet Plastik dan Barang Marketplace Ludes dalam Kebakaran di Cikarang

Sabtu, 26 September 2026 | 13:50

Bitcoin Turun Tipis di Bawah 84.000 Dolar AS

Sabtu, 26 September 2026 | 13:33

Surya Paloh Ungkap Alasan Guruh Soekarnoputra Pilih Fokus ke Seni Ketimbang Pimpin PDI

Sabtu, 26 September 2026 | 13:10

Kapolri Pimpin Kenaikan Pangkat 50 Pati dan 4 PNS Polri

Sabtu, 26 September 2026 | 12:35

Selengkapnya