Berita

ilustrasi/net

Dunia

KUDETA MILITER TURKI

Hukuman Mati Pelaku Kudeta Menanti Persetujuan Parlemen

SELASA, 19 JULI 2016 | 02:55 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, akan mengembalikan hukuman mati di negaranya khusus bagi para pelaku kudeta yang gagal, jika diizinkan oleh parlemen.

Pemerintah Turki sempat menghapus hukuman mati pada 2004 untuk memuluskan perundingan negaranya masuk dalam keanggotaan Uni Eropa.

Dalam kesempatan wawancara ekslusif pertama yang dilakukannya setelah upaya kudeta digagalkan, Erdogan mengklaim bahwa rakyatnya menuntut hukuman mati bagi komplotan kudeta.


"Orang-orang memiliki pendapat, setelah begitu banyak insiden terorisme, mereka (pelaku kudeta) harus dibunuh," kata Erdogan melalui penerjemahnya kepada CNN.

Erdogan bahkan terkesan tak sudi menampung para pelaku kudeta di penjara negara dan bertanggung jawab atas makanan sehari-hari mereka.

"Mengapa saya harus menjaga mereka dan memberi mereka makan di penjara selama bertahun-tahun yang akan datang?" ujarnya.

Mengenai rencana hukuman mati ini langsung mendapat reaksi keras dari negara utama di Uni Eropa, Jerman.

Pemerintahan Angle Merkel menyebut rencana pemerintahan Erdogan itu tidak proporsional. Jerman mendesak Erdogan tidak menghidupkan lagi aturan hukuman mati.

Jika Turki tetap melakukannya, maka semakin besar kemungkinan mereka gagal menjadi bagian Uni Eropa (UE). [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

PKS Minta Pemerintah Fokus Reformasi Kebencanaan, Bukan Merger Besar-Besaran

Kamis, 10 September 2026 | 10:25

Minyak Dunia Kembali Membara, Rupiah Tertekan ke Rp17.528 per Dolar AS

Kamis, 10 September 2026 | 10:10

Prabowo Bicara Masa Depan RI: 2050 Jadi Kekuatan Besar Dunia

Kamis, 10 September 2026 | 10:06

Usai Tiga Hari Ambruk, Harga Emas Antam Kembali Naik

Kamis, 10 September 2026 | 09:57

KPK Bidik Pemilik PT CMC dan Cara Dapat Proyek di Bengkulu

Kamis, 10 September 2026 | 09:39

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Imparsial: Status Tak Boleh Beri Jalur Hukum Khusus

Kamis, 10 September 2026 | 09:38

IHSG Dibuka Hijau, Investor Cermati Sentimen Global

Kamis, 10 September 2026 | 09:31

Mentan Amran Berduka, Tiga Petugas Pertanian Tewas Ditembak di Jayawijaya

Kamis, 10 September 2026 | 09:18

Prabowo Tekankan Pentingnya Persatuan dan Kerukunan dalam Demokrasi

Kamis, 10 September 2026 | 09:11

Bupati Lahat: Indonesia Terus Dukung Kemerdekaan Palestina

Kamis, 10 September 2026 | 09:04

Selengkapnya