Berita

john kerry/net

Dunia

John Kerry: Tidak Bertanggung Jawab Menuduh AS Terlibat Kudeta

SENIN, 18 JULI 2016 | 01:11 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Amerika Serikat menanggapi permintaan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, untuk menyerahkan Fethullah Gulen, tokoh berpengaruh yang dituduh sebagai otak percobaan kudeta yang gagal.

Selama ini Gulen berdomisili di Pennsylvania, AS. Erdogan menuduh mantan sahabatnya itu sedang membentuk Struktur Negara Paralel yang berusaha menggulingkan pemerintahan yang sah.

Permintaan agar AS menyerahkan Gulen sebelumnya secara implisit disampaikan Perdana Menteri Binali Yildirim. Ia bahkan mengancam, dengan mengatakan bahwa Turki siap berperang dengan negara mana pun yang melindungi ulama kharismatik itu.


Merespons itu, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, menyatakan bahwa negaranya belum menerima permintaan resmi ekstradisi dari Turki.

Dia juga menilai tuduhan yang menyebut AS terlibat dalam percobaan kudeta adalah hal yang tidak bertanggung jawab.

"Kami pikir tidak bertanggung jawab untuk menuduh ada keterlibatan Amerika Serikat, sementara kami hanya menunggu permintaan mereka. Kami benar-benar siap bertindak jika memenuhi standar hukum," kata Kerry kepada CNN.

AS termasuk negara yang langsung mengecam percobaan kudeta oleh kelompok militer di Turki, beberapa jam setelah aksi itu berlangsung. AS menekankan "dukungan mutlak" terhadap demokrasi di Turki, pemerintahan sipil dan lembaga-lembaga demokratis (Baca: AS Dukung Mutlak Pemerintahan Erdogan).

Gulen sendiri telah membantah keras tuduhan Erdogan soal perannya di balik percobaan kudeta.

"Dua puluh tahun yang lalu, saya jelas menyatakan dukungan saya untuk demokrasi dan saya katakan saya tidak akan berbalik dari demokrasi di Turki," kata Gulen, beberapa jam setelah usaha kudeta itu berlangsung (Sabtu, 16/7).

Gulen tegaskan bahwa posisinya terhadap demokrasi benar-benar jelas.

"Setiap upaya untuk menggulingkan pemerintahan adalah pengkhianatan," tegasnya.

Ia tidak menyebut kelompok mana yang kemungkinan berada di balik gerakan kudeta. Namun, menurutnya itu bisa dilakukan siapa saja selain dirinya.

"Bisa siapa saja. Saya telah meninggalkan Turki selama 16 tahun," ucap Gulen. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

PKS Minta Pemerintah Fokus Reformasi Kebencanaan, Bukan Merger Besar-Besaran

Kamis, 10 September 2026 | 10:25

Minyak Dunia Kembali Membara, Rupiah Tertekan ke Rp17.528 per Dolar AS

Kamis, 10 September 2026 | 10:10

Prabowo Bicara Masa Depan RI: 2050 Jadi Kekuatan Besar Dunia

Kamis, 10 September 2026 | 10:06

Usai Tiga Hari Ambruk, Harga Emas Antam Kembali Naik

Kamis, 10 September 2026 | 09:57

KPK Bidik Pemilik PT CMC dan Cara Dapat Proyek di Bengkulu

Kamis, 10 September 2026 | 09:39

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Imparsial: Status Tak Boleh Beri Jalur Hukum Khusus

Kamis, 10 September 2026 | 09:38

IHSG Dibuka Hijau, Investor Cermati Sentimen Global

Kamis, 10 September 2026 | 09:31

Mentan Amran Berduka, Tiga Petugas Pertanian Tewas Ditembak di Jayawijaya

Kamis, 10 September 2026 | 09:18

Prabowo Tekankan Pentingnya Persatuan dan Kerukunan dalam Demokrasi

Kamis, 10 September 2026 | 09:11

Bupati Lahat: Indonesia Terus Dukung Kemerdekaan Palestina

Kamis, 10 September 2026 | 09:04

Selengkapnya