Berita

salamuddin daeng/net

Bisnis

PLN Didorong Tinggalkan Solar dan Memprioritaskan Gas

SELASA, 12 JULI 2016 | 13:34 WIB | LAPORAN:

PT PLN (Persero) diminta meninggalkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar untuk keperluan pembangkit listrik dan memprioritaskan gas. Alasannya, dari sisi ketersediaan masih melimpah, lebih efisien, dan ramah lingkungan.

Pengamat energi dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan Peneliti Pusat Kajian Ekonomi Politik Universitas Bung Karno, Salamudin Daeng menyebut, penggunaan gas untuk pembangkit sudah harus jadi prioritas karena dari sisi ketersediaan masih sangat besar.

"Ketersediaan gas kita setara 1,5 juta berel per hari," ujar Daeng di Jakarta.
 

 
Dengan ketersediaan sebesar itu, lanjut Daeng, sudah seharusnya mega proyek listrik sebesar 35.000 MW, mayoritas pembangkit listriknya menggunakan gas. Tentu saja, kebijakan pemerintah soal gas juga harus jelas, yakni dengan mengkaji ulang alokasi untuk pasar ekspor agar alokasi gas untuk pembangkit lebih terjamin.
 
Hitungan efisiensi menggunakan gas bukan isapan jempol. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menghitung, penggunaan gas di pembangkit listrik menurunkan biaya pokok produksi (BPP) listrik. Dengan menggunakan BBM, BPP listrik bisa mencapai Rp 2.200 per kilowatt hour (kWh).
 
Sementara dengan gas (BPP) bisa Rp 1.300-1.400 per kWh, bahkan ada yang bisa lebih rendah lagi Rp 1.200 per kWh.  Artinya, jika memilih gas untuk pembangkit, PLN bisa menghemat cukup signifikan.
 
Presiden Joko Widodo sendiri mengakui, penggunaan gas untuk pembangkit berkapasitas 200 MW, bisa menghemat anggaran Rp 4 miliar per hari atau Rp 1,46 triliun per tahun. Tentu saja, bila kapasitas pembangkitnya lebih besar dari 200 MW, penghematan pun akan lebih signifikan.
 
PLN pun sejatinya berpengalaman mengkonversi solar menjadi gas. Sebagai contoh adalah PLTU di Tambak Lorok, Jawa Tengah. Begitu PLTU ini dialiri gas dari blok Kepodang, PLTU ini mempu menghemat hingga Rp 2 triliun per tahun.
 
"Dengan gas, sudah pasti itu akan menghemat impor BBM. Dengan gas pula, berarti banyak yang bisa dijawab oleh pemerintah karena selama ini defisit akibat impor BBM. Dengan gas ekonomi lebih efisien," tegas Daeng.
 
Dalam konteks kebutuhan energi domestik di masa depan, kata Daeng, penggunaan gas untuk pembangkit listrik lebih masuk akal ketimbang terus menerus menggunakan solar.  Agar itu bisa diterapkan, maka harus ada regulasi seperti peraturan di bawah undang-undang yang memerintahkan atau prioritas terhadap pembangkit baru untuk menggunakan gas.
 
"Dalam sepuluh tahun terakhir ini terlalu bergantung ke minyak.Tidak ada jalan lain bagi pemerintah mendorong PLN untuk bisa menggunakan gas sebagai energi pembangkit listrik," katanya. [sam]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Penumpang Kereta Bandara Tembus 6,2 Juta Pelanggan Hingga Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:20

Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:15

Prabowo Dorong WNI Masuk Pasar Kerja Teknologi Jerman

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:11

Warna-warni Kendaraan Hias Meriahkan Perayaan 1 Muharam

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:10

Oktasari: Kritik Boleh, Tapi Jangan Abaikan Kerja Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:46

Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Belum Lapor LHKPN 2025, Mendes Yandri Punya Harta Rp20,95 Miliar Saat Awal Menjabat

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Israel Masih Tak Terima Rencana Damai Iran-AS

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:12

Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:52

Universitas Binawan Buka Akses Penyetaraan Kualifikasi Nakes Indonesia di Uni Eropa

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:44

Selengkapnya