Berita

said abdullah/net

Idul Fitri dan Ulah Teroris

SENIN, 11 JULI 2016 | 00:02 WIB | OLEH: MH SAID ABDULLAH

SEMUA agama mengajarkan kedamaian. Sebab damai merupakan kebutuhan dasariah. Maka siapapun orangnya, apapun agama, suku dan rasnya, damai merupakan hal yang niscaya di sana. Tetapi mengapa ketidakdamaian terjadi, di sinilah persoalannya.

Terjadinya bom di hari terakhir umat Islam menjalankan ibadah puasa di Mapolresta Surakarta, Selasa lalu (5/7), merupakan salah satu bentuk ketidakdamaian yang lahir dari cara pandang oknum tertentu. Meski pelaku bom bunuh diri serupa teroris itu ditengarai melafalkan kalimat syahadat sesaat sebelum meledakkan bom, tidak serta merta ia merasa damai di sisi Tuhan. Ia patut diduga keliru memandang Tuhan sebagaimana ia juga pantas ditengara salah mempersepsikan selain Tuhan, termasuk dirinya dan substansi perjuangan puasa itu sendiri.

Puasa sejatinya tidak hanya menahan diri dari lapar dan haus, tetapi puasa juga mencegah diri dalam berprilaku destruktif kepada diri dan siapapun. Oleh karena itu, pengebom di manapun sesungguhnya merupakan representasi dari ketidaksanggupan diri dalam konteks mencegah dan menahan dari tindakan yang merugikan bahkan mencelakakan orang lain, apapun alasannya. Tetapi, manusia memiliki pikiran yang berbeda dengan bingkai spektrum yang tentu saja tidak sama di masing-masing garis tepinya.


Pada saat umat Islam hendak merayakan hari kemenangan (lebaran), di situlah terjadi katarsis-terorisme, dimana seluruh raga berdoa supaya diberi ampunan dan jeda untuk kembali berpuasa di masa-masa yang akan datang. Namun sebuah sudut inversif terjadi ketika seseorang membunuh dirinya sendiri dan bermaksud mencederai orang lain. Dari perspektif psikologi agama, pastilah pelaku bom bunuh diri itu sebentuk pribadi yang tanggung memaknai agama, Tuhan, dan dirinya.

Oleh sebab itu, teroris adalah serumpun skizofrenia yang mengalami gangguan berat pada otak yang menafsir realitas dengan abnormal, tidak seperti orang pada umumnya, halusinatif dan paranoid. Ia juga sebentuk penyakit yang harus disembuhkan antara lain dengan cara melawannya bila tidak bersedia diobati, karena species ini menular dan sulit disembuhkan.

Bila terorisme ini sebentuk kejahatan, sesungguhnya ia tidak bisa dibasmi tuntas sampai ke akar-akarnya. Sebab, kejahatan lahir sebagaimana halnya kebaikan. Keduanya ada sepanjang umur manusia. Namun, manusia lain yang tidak sedang dalam kondisi paranoid yang asik berhalusinasi, berkewajiban untuk mendidik teroris, setidak-tidaknya bersatu untuk membuatnya mengerti dengan cara melawan. Sebab tentang terorisme ini, nenek bilang, "Itu berbahaya!"

Di ujung ramadan dan di awal kemenangan yang ditandai dengan Lebaran Raya (Idul Fitri) ini, situasi damai tercemari oleh aksi individu atau yang mewakili kelompok penganut anarkisme baik di Solo maupun di Arab. Satu cedera di Surakarta, lima orang lainnya meninggal di Arab dan dua terluka pada bom yang meledak di tiga tempat (Madinah, Qatif dan Jeddah).  

Boleh jadi, meski berselang satu hari, tanggal 4 Juli 2016 di Arab dan 5 Juli 2016 di Surakarta, dua kejadian ini dilakukan oleh kelompok yang sealiran atau sama sekali tidak sehaluan. Tetapi bentuknya, pasti sama, terorisme.

Lalu, apa cita-cita kelompok terorisme ini, diantara kita hanya menduga-duga yang bisa saja rasional atau sama sekali irasional, yang dua-duanya belum tentu benar sebagai alasan mengapa harus mengebom. Ketidakbenaran ini bukan hanya pada konteks prilaku yang merusak, tetapi teroris berusaha sekuat tenaga untuk menandingi Tuhan. Sebab, Tuhan mencintai kedamaian. Bila ada makhluk yang membenci kedamaian, sesungguhnya ia sedang melawan Tuhan.

Say No to Terorrism

Terorisme merupakan tindakan kriminal, musuh yang menyerang kedaulatan negara dan keamanan masyarakat. Seluruh komponen bangsa harus terpanggil dalam upaya pencegahan terorisme. Ia merupakan musuh semua agama karena tidak ada satupun agama yang mengajarkan kekerasan dan kebrutalan. Terorisme, tidak ada kaitannya dengan agama tertentu. Begitu pula, terorisme musuh semua negara yang ingin mendambakan perdamaian dan ketertiban global.

Bila diamati, aksi terorisme merupakan akibat dari rasa ketidakpuasan, kekecewaan,  dan keputusasaan kelompok tertentu di berbagai persoalan. Bisa jadi, teroris kecewa terhadap kondisi atau persoalan politik, hukum, ekonomi, dan sosial. Lalu ia berulah supaya mendapatkan perhatian. Ia ibarat anak kecil yang tidak perlu berpikir akibat yang akan muncul. Serupa anak kecil, ia melempar kaca supaya kehendaknya dikabulkan orangtua atau keluarganya. Tetapi, teroris tidak sama persis dengan anak kecil karena mereka makhluk dewasa yang keliru dalam berkeyakinan terhadap yang dianggapnya benar dari perspektif ia berdiri.

Selain itu, teror ini sesungguhnya bukanlah kejahatan yang berdiri sendiri. Ia bersifat interaksionisme dan dapat dikelompokkan ke dalam kejahatan balas dendam (hate crimes). Namun demikian, bentuk aksi balas dendam kayaknyaSebab republik ini tidak antidialog dimana perbedaan cara pandang tidak serta merta harus diselesaikan dengan model Barbarian. Sebab, semua agama selalu memulai perundingan atau bertemu dengan perdamaian. Di sinilah perlu kesepahaman untuk mengatakan tidak pada terorisme.

Ada hal yang dilupakan kelompok terorisme ini bahwa teror sebenarnya bukan merupakan tindakan yang seksilagi. Bila diperhatikan, saat terjadi teror di Thamrin pertengahan Januari lalu, sejumlah publik melawan dengan mengatakan "Kami tidak takut teror." Dari risalah ini, teroris perlu melakukan revolusi mental dengan membuat aksi yang lebih populis-inovtaif supaya mendapatkan perhatian publik. Bom bunuh diri, meledakkan fasum (fasilitas umum) maupun tempat vital dengan atau tanpa korban, ia adalah masa lalu. Dus, teroris pada akhirnya menjadi common enemy dan teralienasi.

Tentang keterasingan ini, Karl Marx muda telah mengekspresikan dalam tulisan-tulisannya, terutama dalam Manuskrip (1844) yang merujuk ke pemisahan hal-hal yang secara alamiah milik bersama, atau membangun antagonisme di antara hal-hal yang sudah berada dalam keselarasan. Ini mengacu ke alienasi sosial seseorang dari aspek-aspek hakikat kemanusiaannya (species-essence).

Teroris lupa (belajar) bahwa alienasi atas dirinya (dari keselarasan itu) merupakan embrio-sistematik dari kapitalisme yang pada akhirnya menjadikan dirinya sebagai pekerja yang tak pernah menjadi otonom.

Karena itu, teroris pada akhirnya teralienasi dari alam, dari aktivitasnya sendiri, teralienasi dari species-being (dari dirinya sebagai anggota darihuman-species) dan terasing dari manusia lain. Ini sebabnya, alienasi merupakan proses di mana manusia menjadi asing terhadap dunia tempat mereka hidup.

Sebagai sebuah isme, terorisme muncul menjadi gagasan dan tindakan yang menghendaki disharmoni terhadap manusia untuk hidup dalam damai lantaran ada semacam perpecahan atau keterputusan yang membuat dirinya merasa seperti orang asing di dunianya sendiri. Di saat umat hendak berharmoni dengan keadaan dalam damai lebaran, teroris melakukan "budaya tanding" dengan cara menebar angin. Ini terjadi karena teroris tidak berkelindan dengan alam melainkan terpuruk pada antiklimaks kenyataan.

Barangkali, suatu ketika akan hadir masa dimana para alien akan teratasi dan kemanusiaannya kembali hidup dalam harmoni dengan dirinya sendiri dan dengan alam. Tetapi, dalam konteks menyamakan persepsi untuk mendidik (melawan) terorisme, semua perlu bersatu untuk melawan terorisme dan kebersatuan itu, pada akhirnya menjadi kuat. Hari ini, berdoa saja tidak cukup terutama pada posisi Tuhan yang tidak terlalu teknis dalam ramadan maupun lebaran sekalipun. [***]

Penulis adalah Wakil Ketua Banggar DPR dari Fraksi PDI Perjuangan.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya