Berita

ilustrasi/net

Politik

Pemerintah Bersalah Anggap Remeh Tragedi Brexit

JUMAT, 08 JULI 2016 | 10:39 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Peristiwa kemacetan ekstrem di gerbang tol Brebes Timur atau kini disebut "tragedi Brexit" adalah cermin ketidakhadiran negara dalam merumuskan langkah-langkah preventif atas urusan rakyat banyak.
 
Tragedi Brexit mengisi halaman terkhir Ramadhan tahun 2016 yang memakan korban jiwa sebanyak 12 orang, salah satunya bayi usia setahun. Kebanyakan korban mengeluh kelelahan, pusing, mual hingga pingsan sebelum akhirnya meninggal dunia dalam perjalanan mudik.

Ketua Bidang Sosial Politik Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI, Razikin Juraid, menegaskan bahwa tragedi itu menggambarkan negara tidak tanggap dan abai terhadap kesulitan rakyat.


"Dengan segala kerumitannya, peristiwa Brexit seharusnya tidak perlu terjadi apalagi memakan korban jiwa. Pada konteks abainya negara tersebut saya menyebut kejadian itu dengan sebutan Brexit Teror atau dapat juga disebutkan teror negara alias state terror," kata Razikin, Jumat (8/7).
 
Ia menyesali pemerintah lebih serius menanggapi peristiwa bom bunuh diri yang menewaskan seorang pelakunya ketimbang merespons "Brexit Terror” yang hingga Selasa lalu sudah memakan nyawa 12 pemudik.

"Kami sangat menyesalkan sikap pemerintah yang terkesan menganggap remeh perisitiwa Brexit Tol. Sebaiknya pemerintah harus berani meminta maaf dan mengakui jika itu adalah kelalaian, karena mudik itu adalah rutinitas tahunan yang dapat diprediksi jauh-jauh hari sebelumnya," ucap Razikin.

Sebaiknya pemerintah tidak sibuk berdalih atau merumuskan berbagai macam alasan untuk menghindar, seolah-olah pemerintah tidak salah.

"Sangat jelas dalam hal ini pemerintah bersalah dan harus bertanggung jawab dan minta maaf. Dua belas orang meninggal itu akibat kelalaian pemerintah," tegasnya. [ald]

Populer

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

UPDATE

Corak Kita di Mata Marx

Kamis, 29 Januari 2026 | 06:01

Hoaks Tersangka Putriana Dakka Dilaporkan ke Divisi Propam Mabes

Kamis, 29 Januari 2026 | 05:55

Pelukan Perkara Es Jadul

Kamis, 29 Januari 2026 | 05:29

Eggi Sudjana: Roy Suryo Belagu, Sok Merasa Hebat

Kamis, 29 Januari 2026 | 05:12

Sekda Jateng Turun Tangan Cari Pendaki Hilang di Bukit Mongkrang

Kamis, 29 Januari 2026 | 05:00

Polisi Pastikan Seluruh Karyawan Pabrik Swallow Medan Selamat

Kamis, 29 Januari 2026 | 04:31

Mengenal Luluk Hariadi, Tersangka Korupsi Pengadaan Baju Ansor Rp1,2 Miliar

Kamis, 29 Januari 2026 | 04:17

Tanggung, Eggi-Damai Lubis Harusnya Gabung Jokowi Sekalian

Kamis, 29 Januari 2026 | 04:11

Eggi Sudjana: Tak Benar Saya Terima Rp100 Miliar

Kamis, 29 Januari 2026 | 03:40

Hukum Berat Oknum Polisi-TNI yang Tuduh Penjual Es Gabus Jual Produk Berbahan Spons

Kamis, 29 Januari 2026 | 03:08

Selengkapnya