Berita

net

Bisnis

Waspadai Deflasi Menuju Krisis Ekonomi

SENIN, 04 JULI 2016 | 04:30 WIB | LAPORAN:

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan April 2016 mengalami deflasi sebesar 0,45 persen secara bulanan atau month to month.

Menurut Bank Indonesia, deflasi disebabkan penurunan harga bahan bakar minyak, panen raya dan tarif dasar listrik. Dengan catatan, deflasi IHK terutama disumbang deflasi komponen barang yang diatur pemerintah (administered prices) dan komponen bahan makanan bergejolak (volatile foods).

Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu Arief Poyuono menjelaskan, deflasi yang terjadi saat ini lebih dikarenakan kinerja ekonomi pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang melakukan kebijakan penurunan harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik, dan panen raya .


"Ketiga faktor tersebut tidak mempengaruhi turunnya nilai inflansi. Yang terjadi justru industri penghasil barang dan jasa di Indonesia mengurangi produksinya akibat daya beli masyarakat makin menurun sehingga barang dan jasa yang dihasilkan di Indonesia tidak laku dan kalah bersaing dengan barang-barang China," jelasnya kepada redaksi, Senin (4/7).

Arief mengatakan, jika deflasi dikatakan karena panen raya juga bohong besar. Menurutnya, harga pangan yang murah juga akibat membanjirnya produk pangan impor karena pemerintah dalam menghadapi Hari Raya Idul Fitri mencanangkan import besar-besaran produk pangan seperti gula, jagung, beras, dan lainnya.

"Bukti paling konkrit kalau deflasi yang dialami Indonesia mengarah pada depresi ekonomi yang menuju krisis adalah pertumbuhan ekonomi yang menurun terus. Artinya deflasi tidak disebabkan oleh over supply tapi memang karena daya beli masyarakat yang terus menurun," bebernya.

Dia memperkirakan, akibat deflasi yang tidak didasari oleh kinerja ekonomi nasional akan menyebabkan depresi ekonomi dengan dibarengi jatuhnya kurs mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Serta angka pengangguran yang terus meningkat dan hancurnya industri nasional akibat tidak mampu bersaing dengan produk impor.

"Jadi hati-hati, jika tidak ditangani dengan baik masalah negatif deflasi ini akan menimbulkan depresi ekonomi yang mengarah pada krisis ekonomi yang akan melahirkan ledakan pengangguran besar besaran," tegas Arief yang juga politisi Partai Gerindra. [wah]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:23

Bamus Betawi Siapkan Program Strategis Menuju Lima Abad Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:18

BEM Bersatu Ungkap Tiyo Ardianto Dekat dengan Jaringan PDIP dan Eks Timses Ganjar

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:08

Nasabah BRImo Bisa Beli Reksa Dana USD Batavia

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:04

BEM Bersatu: Mobil Tiyo Ardianto Diduga Milik Besan Andhika Perkasa

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:01

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30

Haikal Hassan Dianugerahi Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University Korsel

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:14

Rp35 Triliun Anggaran MBG Berubah Jadi Sampah

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:00

Kemensos Genjot Sentra Terpadu jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:57

Pola Kenaikan Tidak Biasa Kekayaan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:43

Selengkapnya