Berita

ilustrasi/net

Bisnis

Demokrat: Solusinya, Pemerintah Alihkan Kebiasaan Makan Daging Sapi

JUMAT, 01 JULI 2016 | 18:03 WIB | LAPORAN:

Hingga beberapa hari jelang Lebaran, harga daging sapi tetap stabil tinggi jauh di atas target Presiden Joko Widodo Rp 80 ribu per kilogram.

Padahal pemerintah sudah gencar melakukan operasi pasar untuk menekan harga sapi, namun tetap saja harga daging sapi masih berada di atas Rp 100 ribu per kilogram di pasaran.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Herman Khaeron, menyatakan, harga daging sapi stabil tinggi karena konsumsi daging sapi domestik yang tinggi. Konsumsi daging sapi rata-rata penduduk Indonesia 2,2 kilogram per kapita tiap tahun. Karena itu persoalan stok daging sapi memang bukan persoalan yang sederhana dan mudah untuk diatasi oleh pemerintah.


"Kurang lebih kita membutuhkan setiap tahun 550 ribu ton daging sapi. Sehingga ini bukan sesuatu hal yang mudah dan sederhana. Apalagi kita negara kepulauan, konsekuensinya terhadap beberapa aspek di skala ekonomi," ujar Herman dalam diskusi "Harga Daging Sapi Stabil Tinggi" yang digelar divisi juru bicara Partai Demokrat, di De Pana Cafe, Jakarta, Jumat, (1/7).

Pemerintah harus memiliki data yang benar-benar akurat untuk menentukan suplai daging sapi, apalagi daging sapi tidak hanya langsung dikonsumsi masyarakat tapi juga untuk bahan olahan pangan lainnya.

Masalah berikutnya yang menyebabkan harga daging sapi tinggi adalah ketidakmampuan pemerintah memproduksi daging sapi, sehingga harus selalu tergantung dengan impor.

Solusinya, menurut Herman, adalah pemerintah mulai menggalakkan diversifikasi atau pengalihan sumber daya, apabila memang daging sapi menjadi persoalan bangsa dan tak kunjung mampu swasembada daging sapi.

Apalagi, 2/3 wilayah Indonesia adalah laut. Sebenarnya Indonesia kesulitan mengembangkan produksi sapi lokal, karena membutuhkan lahan yang sangat luas untuk menjadi wilayah gembala sapi.

Diversifikasi yang dimaksud adalah mengubah pola kebutuhan daging sapi menjadi ke arah pangan lain, seperti ikan.

"Kenapa tidak rendang sapi diubah jadi rendang ikan tuna. Kompetensi kita ya ikan laut. Kita harus dorong kesana, supaya tekanan untuk konsumsi bisa turun, pada saat yang sama pasar bisa dikelola dengan baik," terangnya. [ald]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:23

Bamus Betawi Siapkan Program Strategis Menuju Lima Abad Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:18

BEM Bersatu Ungkap Tiyo Ardianto Dekat dengan Jaringan PDIP dan Eks Timses Ganjar

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:08

Nasabah BRImo Bisa Beli Reksa Dana USD Batavia

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:04

BEM Bersatu: Mobil Tiyo Ardianto Diduga Milik Besan Andhika Perkasa

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:01

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30

Haikal Hassan Dianugerahi Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University Korsel

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:14

Rp35 Triliun Anggaran MBG Berubah Jadi Sampah

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:00

Kemensos Genjot Sentra Terpadu jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:57

Pola Kenaikan Tidak Biasa Kekayaan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:43

Selengkapnya