Berita

foto:net

Kesehatan

Kapolri Rahasiakan Daftar RS Pengguna Vaksin Palsu

Masih Tahap Penyelidikan
JUMAT, 01 JULI 2016 | 09:21 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kepolisian tak berani membeberkan nama-nama rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) yang menggunakan vaksin palsu ke publik. Padahal, peredaran vaksin palsu sangat membahayakan anak-anak dan balita.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengaku, sudah men­gantongi data-data sejumlah rumah sakit dan Puskesmas yang diduga terlibat dalam kasus pembuatan vaksi palsu.

"Kami belum bisa membe­berkan ke publik karena masih dalam tahap penyelidikan lebih lanjut," kata Badrodin saat apel pasukan Lebaran di Mapolda, Jakarta, kemarin.


Dalam penanganan kasus ini, menurut Badrodin, pihaknya akan menggandeng ahli keseha­tan untuk dimintai penjelasan­nya soal bahaya vaksin palsu bagi pertumbuhan anak-anak.

"Sekarang kita cek bahan baku vaksin palsu. Kemudian setelah itu baru kita tanya pendapat ahli dampaknya apa kalau disuntikan ke orang itu," kata Badrodin.

Terkait sanksi hukuman mati, Badrodin enggan menanggap­inya. Dia hanya menyerahkan hukuman untuk para tersangka sepenuhnya ke hakim di pen­gadilan.

"Sanksi akan diberikan se­suai aturan yang ada. Kalau maksimal di situ hukumannya 15 tahun, ya kita terapkan 15 tahun," ujarnya.

Sementara Menteri Kesehatan Nila F Moeloek telah membentuk Satgas Penanganan Vaksin Palsu untuk menangani kasus yang sudah meresahkan masyarakat. Termasuk, melakukan pengece­kan dampak terhadap anak-anak yang diberikan vaksin palsu.

"Satgas itu terdiri dari Bareskrim, Kemenkes, BPOM dan Ikatan Dokter Anak Indonesia untuk menangani masalah ini," kata Nila.

Pihak BPOM, kata Nila, sedang mengusut peredaran vaksin palsu. Salah satunya, dengan mengerahkan seluruh balai BPOM yang tersebar di Indonesia melakukan penyi­taan terhadap vaksin-vaksin palsu yang beredar di tengah masyarakat.

"Proses penyitaan sudah di­lakukan. Hari ini sudah hampir selesai. Barang sitaannya pun juga sudah ada di BPOM," jelas Nila.

Kementerian Kesehatan juga sedang melakukan pengecekan terkait dampak yang timbul akibat pemakaian vaksin palsu. "Saya ingin tahu apa isi kand­ungannya, karena dampaknya sangat berbahaya bagi orang, khususnya anak-anak. Jadi, kita tunggu ya," ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga akan memberikan vaksin ulang kepada anak-anak yang sebelumnya diberikan vak­sin palsu oleh klinik atau Puskesmas. ***

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Selesaikan Bentrok di Matraman dengan Kepala Dingin

Senin, 27 Juli 2026 | 20:25

Metode Backfill Tailing jadi Andalan Tambang Bawah Tanah Lebih Ramah Lingkungan

Senin, 27 Juli 2026 | 20:24

Putusan Majelis Syura PKS: Dukung Kebijakan Ekonomi Prabowo Hingga Soroti LGBTQ

Senin, 27 Juli 2026 | 20:23

Pramono Minta Warga Kepala Dingin Sikapi Bentrokan di Matraman

Senin, 27 Juli 2026 | 20:16

Sebagai Wakil Rakyat, DPR Punya Tiga Tugas yang Wajib Dijalankan

Senin, 27 Juli 2026 | 20:14

KSSK Bakal Libatkan Danantara dalam Setiap Pengambilan Keputusan

Senin, 27 Juli 2026 | 20:02

Kuasa Hukum Sebut Kasus TPPU Febrie Adriansyah Masih Abu-Abu

Senin, 27 Juli 2026 | 19:59

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Komunitas Lintas Iman Satukan Tekad Hadapi Krisis Iklim

Senin, 27 Juli 2026 | 19:49

Kompetisi Debat Pemilu ke-VI Bawaslu Cetak Rekor Peserta Terbanyak

Senin, 27 Juli 2026 | 19:48

Selengkapnya