Berita

foto:net

Bisnis

Pemerintah Dan Banggar Kerek Target Pertumbuhan Ekonomi

APBNP 2016 Diotak-atik
RABU, 22 JUNI 2016 | 08:53 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) DPR ke­marin melanjutkan pembahasan Anggaran Pendapatan dan Be­lanja Negara Perubahan 2016 (APBNP).

Dalam rapat kerja tersebut, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyampaikan kesepakatan yang dihasilkan dengan Panitia kerja A Banggar mengenai postur sementara APBNP 2016.

Bambang menyebutkan tar­get pertumbuhan direvisi lagi. "Asumsi dasar makro ekonomi menjadi 5,2 persen, dari 5,3 persen," kata Bambang.


Seperti diketahui, pemerintah semula mematok target pertum­buhan ekonomi tahun ini 5,3 persen. Kemudian, dalam usulan APBNP, direvisi menjadi 5,1 persen. Dan, kini dinaikkan lagi menjadi 5,2 persen.

Selain itu, inflasi ditetapkan turun dari semula 4,7 persen menjadi 4 persen. Rupiah di­patok Rp 13.500 per dolar AS, atau lebih rendah dari asumsi APBN 2016 Rp 13.900 per dolar AS. Sedangkan asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) dalam APBN-P 2016 dinaikkan menjadi 40 dolar AS per barel, dari 35 dolar AS per barel. Produksi minyak juga mening­kat menjadi 820 ribu barel per hari, dari semula 810 ribu barel per hari.

Berbeda dengan cost re­covery. Pemerintah dan Panja sepakat menurunkan cost re­covery dari 11 miliar dolar AS menjadi 8 miliar dolar AS. Alhasil, pajak penghasilan (PPh) minyak dan gas bumi terkerek, dari Rp 24,3 triliun menjadi Rp 36,3 triliun.

Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) ditargetkan naik Rp 39,7 triliun menjadi Rp 245,1 triliun. Kom­ponen terbesar datang dari penerimaan Sumber Daya Alam (SDA) migas yang sebesar Rp 68,7 triliun.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo optimistis pertumbuhan ekonomi 5,2 persen dapat tercapai. Apalagi, bila ada kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty).

"Jadi kalau seandainya tax amnesty dimasukkan, seberapa besar penerimaan negara yang diperoleh? Dan seberapa besar dana yang digunakan untuk mendukung pengeluaran pe­merintah itu akan bisa mem­bantu peningkatan pertumbuhan ekonomi?" ujar Agus.

Dia memaklumi perubahan angka pertumbuhan ekonomi dari 5,3 persen turun menjadi 5,1 dan diubah kembali menjadi 5,2 persen. Sebab pertumbuhan ekonomi di Indonesia sangat dipengaruhi pertumbuhan per­ekonomian dunia.

Agus menjelaskan, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Kementerian BUMN untuk mempersiapkan instrumen dalam menyerap dana repatriasi dari tax amnesty.

Agus menyarankan, dana repatriasi dimasukkan untuk pembiayaan pembangunan in­frastruktur. "Keinginan pemerintah membangun infrastruktur selama ini terkendala pembiayaan. Kini dengan adanya dana segara masuk, pembangunan infrastruktur harus dapat prioritas," imbuhnya. ***

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya