Berita

ilustrasi/net

Bisnis

TAX AMNESTY

Peluang Impeachment Untuk Presiden Jokowi Makin Terbuka Lebar

SELASA, 21 JUNI 2016 | 17:07 WIB | LAPORAN:

Memaksakan pengampunan pajak (tax amnesty) masuk dalam APBN-P 2016 merupakan upaya pemerintahan Jokowi-JK untuk menutupi kegagalannya mengatasi defisit anggaran negara.

Begitu dikatakan Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID), Jajat Nurjaman kepada redaksi, Selasa (21/6).

Defisit anggaran saat ini sudah mencapat 2,48 persen, sementara dalam UU Keuangan Negara, defisit anggaran sudah ditentukan tidak boleh melampaui 3 persen, jika pemerintah gagal mengatasi defisit anggaran maka sudah dapat dipastikan posisi Jokowi akan terancam.


"Tips instan yang ditawarkan pemerintah melalui tax amnesty dengan target pemasukan ke kas negara hingga mencapai Rp 165 triliun sangat tidak logis. Tax amnesty yang sudah coba diberlakukan oleh para pendahulu Jokowi sudah terbukti gagal, jadi tidak ada jaminan pasti program tax amnesty yang akan dilakukan pemerintah kali ini juga akan berhasil," jelas Jajat.

Menurut dia, sebagai kepala pemerintahan seharusnya Jokowi bisa memberikan terobosan-terobosan baru untuk mendobrak pemasukan kas negara, bukan menduplikat cara-cara yang sudah terbukti gagal.

"Jika keadaannya seperti ini terus saya kira prediksi pemerintahan Jokowi-JK tidak akan bertahan lima tahun akan segera terbukti, karena jika anggaran defisit anggaran melampaui 3 persen membuka peluang dari DPR untuk melakukan impeachment kepada Jokowi terbuka lebar," jelas Jajat.

"Sikap pemerintah yang ngotot ingin segera memberlakukan tax amnesty patut dipertanyakan. Apakah pemerintah sudah mempunyai daftar target orang atau badan yang dianggap akan memuluskan program tax amnesty, jika benar demikian seharusnya dengan UU Pajak saja pemerintah sudah bisa mendobrak pemasukan kas negara, karena dalam UU Pajak ada sanksi denda dan pidana  yang seharusnya bisa digunakan secara maksimal." [sam]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya