Berita

Bambang Haryo Soekartono/net

Bisnis

Pencabutan Subsidi BBM & Listrik Lebih Kejam Dari Kartel Sapi

JUMAT, 17 JUNI 2016 | 22:49 WIB | LAPORAN:

Anggota Komisi VI DPR, Bambang Haryo Soekartono meminta pemerintah tidak memotong subsidi BBM dan listrik di APBN-P 2016 dan APBN 2017. Sebab, pemotongan subsidi akan membuat kehidupan masyarakat kecil semakin sulit.

Saat ini pemerintah memang tengah merancang pemotongan subsidi solar sebesar Rp 500 per liter dan pencabutan subsidi listrik untuk pelanggan 900 watt. Pemotongan dan pencabutan ini dilakukan karena beban subsidi dianggap sudah begitu besar bagi keuangan negara.

Bambang tidak sepaham dengan logika pemerintah ini. Baginya, beban negara dalam sektor energi bisa dikurangi jika pemerintah mampu melakukan efisiensi. Bukan dengan mencabut subsidi yang jelas akan membuat masyarakat makin sulit. Sayangnya, pemborosan di sektor BBM dan listrik seakan dibiarkan pemerintah.


"Pemerintah terkesan menoleransi inefisiensi sehingga harga energi menjadi mahal. Ini lebih kejam dari kartel daging sapi oleh swasta,” ucap politisi Gerindra ini di Jakarta, Jumat (17/6).

Mengapa demikian? Bambang menjelaskan bahwa BBM dan listrik dibutuhkan semua lapisan masyarakat, dari lahir sampai meninggal. Sedangkan daging sapi tidak dikonsumsi setiap saat dan lebih banyak dinikmati kalangan menengah atas.

Adanya inefisiensi BBM terlihat dari harga bensin dan solar di dalam negeri yang lebih mahal dari negara lain. Sebagai perbandingan, harga bensin RON 90 (Petrol 90) di Malaysia hanya dibanderol 1,2 ringgit atau setara Rp 3.890 per liter. Sedangkan harga Pertalite (setara Petrol 90) di Indonesia dijual Rp 7.100 per liter.

Kemudian, harga Pertamax Plus (RON 95) dijual dengan harga Rp 8.350 per liter. Padahal, harga Petrol 95 di Malaysia hanya 1,7 ringgit atau setara Rp 5.510 per liter. Untuk solar, harganya lebih aneh lagi. PT Patra Niaga, salah satu anak usaha Pertamina, menjual solar nonsubsidi Rp 4.500 per liter, padahal harga solar subsidi yang dijual di SPBU-SPBU saat ini masih Rp 5.150 per liter.

"Ini aneh, solar subsidi dijual lebih mahal dari nonsubsidi. Ada selisih Rp 1.650 per liter,” ungkap Bambang.

Jika pemerintah bisa melakukan efisiensi dan menghilangkan kartel, Bambang yakin pengurangan subsidi BBM dan listrik. Kalau dua hal itu dibereskan, tidak hanya dapat mempertahankan subsidi tetapi juga mampu menurunkan harga energi,” imbuhnya.

Bambang menambahkan, rakyat masih membutuhkan subsidi BBM dan listrik karena negara belum mampu menyediakan infrastruktur dan transportasi publik yang baik. Artinya, jika harga BBM dan listrik murah maka biaya produksi dan ongkos logistik ikutan murah, harga barang pun akan turun.

"Selanjutnya, daya beli masyarakat juga akan meningkat. Pada akhirnya, hal itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi kita,” jelasnya. [sam]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya