Berita

foto:net

On The Spot

Bus AKAP Jarang Masuk Terminal Pulo Gebang, Angkot Paling Banyak

Musim Mudik Lebaran Sebentar Lagi
JUMAT, 17 JUNI 2016 | 09:10 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Loket bus antarkota antarprovinsi (AKAP) di Terminal Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Timur, masih banyak yang sepi, padahal musim mudik sebentar lagi.

Meski sudah dilakukan pengundian Senin lalu, belum ada Perusahaan Otobus (PO Bus) yang pindah ke sana. Padahal, terminal ini lebih modern dibandingkan terminal bus AKAP lainnya di Jakarta.

Bentuk dalamnya terkesan lebih menyerupai mal ketimbang terminal. Terminal ini bertingkat lima yang memiliki sarana lift, eskalator, pintu otomatis, dan kamera pengawas atau CCTV. Lantainya berkeramik dan punya fasilitas pendingin (AC) di ruang tunggu penumpang.


Dibangun pada 2010, Terminal Pulo Gebang memiliki empat blok gedung di bagian paling atas. Tiap blok punya fungsi ber­beda. Pertama, Blok A. Gedung ini untuk tempat istirahat awak bus AKAP. Luasnya mencapai 996,1 meter persegi.

Selanjutnya Blok B, yang di­fungsikan sebagai ruang tunggu penumpang. Di sini juga meru­pakan area keberangkatan bus AKAP. Blok ini memiliki 9 pintu dengan jumlah lajur 28 unit bus, dan memiliki luas 1.824 meter persegi.

Blok C Terminal Pulo Gebang merupakan gedung bagi area kedatangan bus AKAP dan bus dalam kota. Luasnya 2.880 me­ter persegi, memiliki 14 pintu, dan 16 lajur bus dalam kota. Di sini dapat menampung 58 bus dalam kota.

Kemudian, Blok D yang meru­pakan gedung bagi area Bus Transjakarta yang memiliki dua lajur. Luasnya mencapai 409,15 meter persegi. Blok itu merupakan tempat beroperas­inya Transjakarta Koridor 11, yang melayani rute Kampung Melayu-Pulogebang.

Setiap lantai pun berbeda-beda peruntukannya. Lantai satu, misalnya, terdapat Masjid Darul Musyafirin. Lokasinya bersa­maan dengan sejumlah fasilitas lain, seperti area komersial, ru­ang loker, toilet, dan lainnya.

Di atasnya adalah lantai mez­zanine. Di situlah tempat un­tuk loket tiket bus AKAP, Bus Transjakarta, ruang pengumu­man, dan fasilitas umum lainnya. Untuk ruang tunggu penump­angnya terdapat di lantai dua, bersama dengan fasilitas posko terminal, posko kesehatan, dan ruang laktasi (ibu menyusui). Lengkap pula dengan fasilitas mengisi ulang daya ponsel.

Lantai tiga saat ini masih kosong. Lantai tersebut rencananya akan menjadi lokasi bagi foodcourt dan tempat untuk 54 kios, ruangan toilet, dan lain­nya. Sementara lantai di atasnya menjadi kantor pengelola ter­minal, bersamaan dengan ruang perwakilan untuk PO bus dan control room.

Terminal ini juga memiliki area parkir yang tersedia untuk mobil, park and ride, sepeda motor, dan taksi. Sarana tersebut tersedia di lantai dasar terminal. Untuk kapasitas bus AKAP, terminal ini dapat menampung lebih kurang 80 bus.

Sayangnya, kemegahan ter­minal ini belum seutuhnya bisa dinikmati publik. Pengoperasian terminal tersebut kerap mol­or karena dirundung kendala. Contoh, akses menuju Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JLJ) atau Jakarta Outer Ring Road (JORR). Baru tahun 2016 ini, akses bus dari terminal ke tol terhubung. Selama kendala teknis tersebut, terminal dengan luas lahan 12,6 hektar dengan luas bangunan 5,4 hektar itu, layaknya hanya gedung kosong.

Dari pengamatan Rakyat Merdeka, bus AKAP yang mampir ke terminal bisa dihitung dengan jari. Begitu pula Transjakarta Koridor 11 (Pulogebang-Kampung Melayu), dan Bus Damri jurusan Bandara Soekarno-Hatta yang terkadang tampak menung­gu penumpang di lantai 2.

Angkutan KWK-lah yang rutin beroperasi di terminal ini. Sedikitnya terdapat lima trayek yang menggunakan Terminal Pulo Gebang, yakni KWK T29 (Pulogebang-Pulogadung), T22 (Pulogebang-Pulogadung), T32 (Pulogebang-Pulogadung), T25 (Pulogebang-Rawmangun), dan Koasi 22A (Pulogebang-Pondok Gede).

Para sopir angkot tersebut kerap berkumpul di luar Gedung C. Sayangnya, tidak banyak warga yang mencari angkutan di terminal ini, sehingga mereka pun kerap keluar dari terminal tanpa membawa penumpang.

Sementara itu, loket bus yang ada di lantai dua terminal sepi. Tak ada penumpang atau ak­tivitas jual beli di lantai tersebut. Bagian dalam loket pun tampak gelap, pintunya terkunci, dan tidak ada penjaganya, baik di dalam loket mau pun di area sekitarnya. Puluhan PO Bus tak lagi membuka loket. Bahkan Rabu lalu, hanya loket PO Bus Rosalia Indah yang beroperasi.

"PO-nya banyak itu cuma pas awal disuruh pindah ke sini dari Terminal Pulogadung, sama pas Lebaran tahun kemarin. Setelahnya mulai berkurang pelan-pelan sampai sekarang sepi begini," ujar Pegawai PO Bus Rosalia Indah, Wati.

Menurut Wati, semua PO yang tutup mungkin karena meng­gunakan sistem komisi, dimana banyaknya uang yang didapat pegawai, tergantung dari jumlah penumpang yang diberangkat­kan dari loket PO tempat mereka berada. Karena sepi penumpang, mereka pun tidak memperoleh pendapatan.

"Makanya mereka tak kuat kalau buka terus, akhirnya banyak yang tutup seperti sekarang. Kalau digaji kayak saya kan aman. Tinggal tunggu perintah dari atas, harus tutup atau tidak," terangnya.

Wati mengatakan, setelah Lebaran tahun lalu, jumlah penumpang yang menggunakan bus AKAP di Terminal Pulo Gebang semakin menurun. Satu bulan setelah Lebaran, jumlah penumpang masih 2-3 orang per hari pada hari kerja, dan 5-6 penumpang pada akhir pe­kan. Namun sejak akhir tahun kemarin, jumlahnya menurun drastis jadi 1 orang per hari, dan 1-2 orang pada akhir pekan.

"Itu pun sebetulnya tidak tiap hari ada penumpang. Yang rutin ada itu hari Jumat. Konsumen wilayah Pulogadung yang pesan lewat telepon biasanya diarahkan ke sini. Kalau yang langsung pe­san ke sini kayaknya tak ada deh," kata wanita berjilbab itu.

Wati pun berharap, agar Terminal Pulogebang bisa beroperasi penuh supaya penumpang berda­tangan ke tempat tersebut. Sebab, dia merasa jenuh dengan sepinya aktivitas di lantai tersebut. Ketika ditemui Rakyat Merdeka, Wati sedang santai sendirian. Dia menonton televisi yang berada tak jauh dari loketnya. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya