Berita

adian napitulu/net

Politik

Adian Napitupulu: Sebaiknya Ahok Kurangi Kesombongan

KAMIS, 16 JUNI 2016 | 07:35 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Adian Napitupulu menyanggah apa yang dia sampaikan dalam release kemarin tentang percakapan Presiden Jokowi terkait Ahok bukan dongeng dan bukan klaim untuk kepentingan saham Freeport ataupun untuk jadi ketua umum partai seperti klaim-klaim yang pernah terjadi. (Baca: Jokowi Lebih Sayang Rakyat Jakarta Ketimbang Ahok).

"Kalau Ahok tidak yakin apa yang saya sampaikan ya itu urusan Ahok dengan keyakinannya. Karena bagi saya ini bukan masalah keyakinan tapi masalah pendengaran. Ahok boleh tidak yakin, tapi saya yang mendengar," kata anggota Komisi VII DPR dari Fraksi PDIP ini, Kamis (16/6).

Lalu lanjut Adian, kalau Jubir Kepresidenan Johan Budi katakan Presiden tidak pernah bicara itu pada dia, ya itu urusan dia dengan Presiden. Sanggahan Johan Budi tidak serta merta meniadakan pertemuan dan pembicaraan Presiden dengan saya. Presiden mau bicara apa dengan siapa dan tentang apa itu 100 persen hak Presiden, dan tidak ada kewajiban Presiden untuk melaporkan kepada Jubir tentang apa saja pembicaraannya dengan siapapun.


"Saya hanya menyampaikan apa yang disampaikan Presiden. Dan apa yg disampaikan Presiden juga sudah saya sampaikan pada Ahok tanggal 7 Juni melalui telepon," ujar Adian.

Menurut Adian, banyak yang bertanya kenapa dia menyampaikan ke publik pembicaraan Presiden dengan dia dan Sihol Manulang? Apa motifnya? Jelas dia, motif dan tujuannya sederhana, bukan untuk minta saham, proyek atau kursi ketua umum partai, tapi untuk mengingatkan Ahok pada apa saja yang sudah disampaikan Presiden pada Ahok.

Jadi, kata Adia, kalau Ahok megatakan dia lebih dekat dengan Jokowi dibandingkan dirinya ya boleh-boleh saja, tapi dekat tidak selamanya berarti memahami, termasuk memahami bahwa tahun 2010 Jokowi menang 90 persen di Solo dan kemenangan mutlak itu tidak membuat Jokowi menjadi sombong apalagi meninggalkan partai. Jokowi menang di Pilkada DKI dan berikutnya menang di Pilpres tapi Jokowi tidak pernah tinggi hati lalu menyatakan kemenangannya bukan buah kerja keras partai bersama relawan.

Ahok boleh saja mengaku lebih dekat dengan Jokowi tapi lucu jika Ahok tidak sadar bahwa Jokowi tidak menyukai kegaduhan yang berlebihan tentang apapun termasuk gaduh tentang Pilkada dengan komentar-komentar tidak produktif yang membabi buta tanpa arah selama berbulan-bulan termasuk menyerang partai yang mengusung Ahok menjadi wakil Jokowi saat Pilkada DKI 2012.

"Baiknya Ahok mengurangi kesombongan yang tidak perlu karena kalaupun Ahok punya puluhan ribu relawan tak perlulah bertinggi hati karena berapapun jumlah mereka tapi tetap saja mereka relawan, sementara PDI Perjuangan punya jutaan kader yang sudah melewati banyak pahit getirnya politik bahkan di Era Orde Baru yang represif sekalipun," ungkap Adian.

Jelas Adia, Ahok mau marah, Johan Budi mau menyangkal, Relawan Ahok kesal, atau apapun, mau pakai hatters di dunia maya atau gugat-menggugat di dunia nyata, bagi Adian tidak apa-apa. Karena bagi dia itu semua tidak penting. Yang terpenting adalah dia sudah menyampaikan pesan Presiden. Pesan bagi dia adalah amanah yang sesulit apapun, resiko sebesar apapun tetap akan disampaikan.

Apalagi, lanjut Adian, jika pesan itu untuk kebaikan Ahok bukan saja dalam memenangkan Pilkada tapi juga memenangkan program-program pembangunan jika dia menang nanti. Jika pesan itu untuk membangun sinergisitas tentu tidak ada yang salah terlebih lagi bukankah sinergisitas serupa juga pernah dilakukan di Pilkada 2012 bahkan juga di Pilpres 2014.

"Justeru sebaliknya saya akan menjadi bersalah jika pesan itu tidak saya sampaikan. Saya bersalah jika "surat" yang dititipkan itu saya simpan dalam dompet saya saja," tukas Adian yang juga pentolan aktivis Forum Kota. [rus]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Usai Raup Dana Jumbo, Danantara Diminta Transparan Soal Penyaluran Investasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:13

SLA Lampaui Target, Helita jadi Andalan Baru Layanan Digital Tangsel

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:09

Garda Bangsa: Program Pemerintah Dirasakan Masyarakat, Harus Dikawal

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:37

TVRI Jelaskan Proses, Cakupan, dan Distribusi Hak Siar FIFA hingga 2027

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:06

AMMSI: Penyesuaian Operasional MBG Perkuat Efisiensi Anggaran dan Tata Kelola Program

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:00

Ace Hasan Dorong Alumni UIN Jakarta Terus Berkontribusi untuk Bangsa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:24

Program 3 Juta Rumah Dipercepat, Pemerintah dan Danantara Bahas Meikarta hingga Inpres Baru

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:08

Tiga Besar Fortune Southeast Asia 500, Pertamina: Motivasi Perkuat Ketahanan Energi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03

Saham Intel Melesat Usai Pernyataan Trump

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:32

Polisi Ungkap Rekayasa Perampokan di Menteng, Pelaku Dendam ke Korban Sejak 2020

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:05

Selengkapnya