Pemerintah diminta untuk memperhatikan Nilai Tukar Petani (NTP) agar senantiasa terjaga bahkan kalau perlu diupayakan mengalami kenaikan.
Anggota komisi IV DPR Andi Akmal Pasluddin mengevaluasi, NTP nasional berdasar sumber data dari Badan Pusat Statistik, pada Maret 2016 sebesar 101,32 atau turun 0,89 persen dibanding NTP bulan sebelumnya.
Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 0,22 persen sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik sebesar 0,68 persen.
Pada Maret 2016 juga terjadi inflasi pedesaan di Indonesia sebesar 0,95 persen disebabkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok konsumsi rumah tangga yang juga mengakibatkan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Maret 2016 sebesar 109,33 atau turun 0,33 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
"Saya mengingatkan kepada pemerintah, bahwa upah petani ini sebagai landasan untuk memperbaiki citra bangsa Indonesia pada tingkat kesejahteraan dan keamanan negara," terang Andi Akmal dalam keterangannya, Senin (13/6).
Akmal menceritakan, pada sejarah masa lampau, bertepatan pada hari ini 13 Juni 1381, telah terjadi tragedi memilukan ketika para petani tersakiti kemudian melakukan aksi anarkis memporak-porandakan gedung-gedung Inggris. Gedung dibakar, harta benda dijarah, bahkan para petinggi negara dipenggal merupakan bentuk aksi anarkis yang terjadi pada saat itu. Kejadian itu memiliki penyebab utama yaitu upah yang rendah. Upah rendah ini dianggap sebuah ketidakadilan yang berakibat pada kelaparan.
Bahkan kejadian yang sama pada tahun 1800an, zaman kekaisaran China juga terjadi kerusuhan yang besar hingga berakibat runtuhnya beberapa dinasti. Kelaparan, ketidakadilan yang berasal dari upah yang rendah menyelimuti kehidupan petani sehingga guncangan negara terjadi.
"Kami ingin, petani negeri ini sejahtera. Bukti yang dapat diukur adalah nilai tukar petani (NTP) yang baik. Karena sejahtera petani, maka negara memiliki tambahan imunitas terhadap masalah keamanan," pinta Akmal.
[wid]