Pemerintah layak sewot. Hari ini, tanggal 1 Juni, yang dimaksudkan diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila, justru oleh sebagian orang lebih "dimaknai" sebagai hari libur nasional. Bukan lahirnya Pancasila.
Pembicaraan mengenai hari libur 1 Juni mencuat sejak Pemerintahan Jokowi menyiapkan rancangan Peraturan Presiden tentang penetapan 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila dan menjadi hari libur nasional. Isu ini kemudian bergulir dan menjadi pembicaraan di berbagai instansi, sekolah dan perusahaan.
Karena ramainya pembicaraan Hari Lahir Pancasila sebagai hari libur nasional, pemerintah sampai mengeluarkan pernyataan tegas.
"Besok dipastikan tidak libur. Informasi yang menyebut ada keputusan Presiden besok libur, itu tidak benar," tegas Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi Sapto Prabowo di Kantor Presiden, kemarin.
Fenomena lebih mengedepankan hari libur ini menggambarkan bahwa di sebagian kalangan, Pancasila tidak lagi menempati posisi strategis. Meski dinilai sebagai ideologi yang sangat ideal bagi bangsa Indonesia, Pancasila sudah lama dipinggirkan dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal, di sekolah-sekolah, butir-butir Pancasila masih terus diajarkan bahkan menjadi bahan ujian di tingkat Sekolah Dasar kelas III sekali pun.
Sayangnya, meski terus dipelajari sejak dini, Pancasila tidak terlalu dijiwai. Murid-murid sekolah hanya menghafal "sekadar" untuk menjawab soal ulangan atau ujian. Setelah itu, Pancasila hanya menjadi tulisan abadi di lembaran-lembaran buku dan makalah.
Kenapa? Karena para pemimpin sendiri yang meminggirkan Pancasila. Mereka berbicara pengamalan Pancasila, tapi pada saat bersamaan justru mempertontonkan tindakan yang bertentangan dengan Pancasila. Akibatnya, mereka dicibir.
Minimnya keteladanan ini bisa melahirkan apatisme di kalangan anak muda. Banyaknya contoh yang tidak baik yang dipertontonkan para pemimpin, membuat Pancasila hanya menjadi slogan indah.
Akibatnya, meski nilai-nilai Pancasila diajarkan sejak Sekolah Dasar, usia para koruptor justru semakin muda. Pelanggaran-pelanggaran, mulai dari jalan raya sampai elite pemerintah, justru meningkat. Akibatnya, Pancasila tidak sakral lagi.
Pancasila jangan berhenti hanya sebatas peringatan dan alat politik serta "cerita sejarah yang ditulis oleh setiap pemenang", apalagi kalau yang diingat hanya hari liburnya.
Sekali lagi, Pancasila butuh keteladanan dari para pemimpin. Seperti kata pepatah, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Kalau para pemimpin mengabaikan nilai-nilai Pancasila, rakyat bisa lebih kasar lagi, dan yang kemudian diingat dan menonjol: Hari Libur Nasional. ***