Wakil Perdana Menteri Belarusia, Vladimir Semashko menjelaskan, dengan penduduk yang hanya 10 juta jiwa, Belarusia berhasil menjadi pusat manufaktur di kawasan Eropa Timur.
Setidaknya 65 persen produksinya diekspor keluar dengan nilai perdagangan mencapai 6 miliar dolar AS pada tahun 2015.
Di bidang pertambangan kata Vladimir, mereka juga memiliki perusahaan pertambangan ketiga terbesar di dunia dengan market share hingga 75 persen. Selain itu peralatan berat dari Belarusia juga memiliki keunggulan dari negara Eropa lainnya karena adalah lebih murah dibanding produk Komatsu dan Caterpillar.
"Baru-baru ini juga kami berhasil menjual 40 kendaraan pertambangan dengan kapasitas 110 ton senilai 50 juta dolar AS. Kami juga tertarik menyediakan kendaraan untuk transport publik terutama untuk kota berpenduduk padat seperti Jakarta," kata Vladimir yang memimpin delegasi bisnis Belarusia dalam pertemuan dengan Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu (29/5).
Untuk alat pertanian, lanjut, Belarus umumnya memproduksi alat pertanian dengan kemampuan 80 hingga 120 tenaga kuda. Tahun lalu produksi alat pertanian kami mencapai 40 miliar dolar AS, di mana 8 miliar dolar AS digunakan untuk keperluan domestik dan sisanya diekspor.
Menurutnya, mereka juga menguasai teknologi pengembangan infrastruktur, yaitu pembangunan jalan. Kemudian produksi petrokimia juga menjadi sektor unggulan Belarus, bahkan produksinya terbesar kedua dunia.
Indonesia sendiri merupakan tujuan ekspor petrokimi keempat terbesar dari Belarus setelah China, India, dan Brazil. Melihat potensi yang besar itu Belarusia merencanakan membangun pabrik pupuk nitrogen terbesar di dunia pada 2021 dengan produksi melebihi 1 juta ton pertahun.
Sementara dalam pengembangan kawasan industri, Belarusia telah menjalin kerjasama dengan China. Untuk meningkatkan investasinya itu juga pemerintah Belarusia menerapkan pemotongan pajak sebesar 15 persen selama 10 tahun untuk Kawasan Ekonomi Khusus di negara itu.
Kunjungan bisnis dari Belarusia ini mendapat tanggapan positif dari para pengusaha yang ikut mendampingi Gubernur Alex Noerdin.
Perusahaan transportasi Blue Bird misalnya, melalui anak usahanya PT Pusaka Bumi Transport menyatakan bahwa mereka telah menjalin kerjasama dengan perusahaan Belarusia yakni Belaz selama empat tahun untuk penyediaan truk dan alatn berat.
"Harapan kami ke depan, kerjasama ini dapat lebih dikembangkan lagi dengan kerjasama penyediaan kendaraan transport publik juga," kata Bayu Priaman Djokosoetono.
Sambutan positif juga disampaikan Dirut Pusri Mulyono Prawiro yang menyatakan kalau PT Pusri memiliki empat pabrik Ammonia dan Urea dengan produksi berkisar 1,5 juta ton ammonia dan 2,3 juta ton urea per tahun.
Ke depannya Pusri akan membangun pabrik NPK 1 juta ton per tahun dengan kebutuhan
phosphate selama ini disuplai dari Jordania. Sehingga ke depannya perlu ada kerjasama dengan Belarusia.
Demikian juga dengan PT Badja Baru yang mengharapkan dibangunnya pabrik ban Belshina di KEK Tanjung Api-Api (TAA).
Para pengusaha di Sumsel juga yakin kalau KEK TAA memiliki syarat yang cukup baik sebagai lokasi investasi karena letaknya sangat strategis. Sehingga mereka juga sangat mendukung upaya dari Gubernur Sumsel untuk mempromosikan KEK TAA.
[wid]