Berita

foto: istimewa

Bisnis

Dijinakkan Pramugari, DPR Tak Jadi Marahi Lion

RABU, 25 MEI 2016 | 04:11 WIB | LAPORAN:

RMOL. Strategi Lion Air untuk menjinakkan para anggota DPR cukup ampuh. Saat rapat dengan Komisi V DPR kemarin (Selasa, 24/5), manajemen Lion Air datang sambil memboyong puluhan pramugari cantik ke Senayan. Alhasil, para wakil rakyat yang awalnya sesumbar bakal bersikap tegas ke maskapai berlambang singa terbang itu luluh dan tak jadi marah-marah.

Lion Air datang ke Senayan berkaitan dengan kasus mogoknya sejumlah pilot yang mengakibatkan delay panjang sejumlah penerbangan dan kasus kesalahan mengirim penumpang internasional ke terminal domestik. Dua kasus itu terjadi pada 10 dan 12 Mei lalu. DPR pun mengundang Lion untuk menjelaskan dua kasus itu.

Rombongan direksi Lion dipimpinan langsung Presiden Direktur Lion Group, Edward Sirait. Ada juga kuasa hukum mereka, Harris Arthur Hedar. Selain itu, puluhan pramugari cantik yang lengkap dengan seragamnya ikut datang ke DPR. Ada yang mengenakan seragam merah-merah, ada juga yang memakai batik. Saking banyaknya, tidak semua bisa duduk dalam ruangan. Sebagian pramugari terpaksa ikut rapat dengan duduk di atas balkon.


Rapat dimulai pukul 1 siang dan selesai pada pukul 3.30 sore. Ketua Komisi V DPR RI Fery Djemi Francis memimpin langsung jalannya rapat. Para anggota komisi yang hadir hampir lengkap. Namun, rapat berjalan landai. Tidak ada yang marah besar meski yang dibahas adalah dua yang mambuat geger penerbangan Indonesia. Padahal, sebelumnya para anggota DPR begitu galak ke Lion.

Kenyataan ini pun disadari politisi perempuan di Komisi V, Novita Wijayanti. "Saya heran rapat hari ini rame banget. Pimpinan ini lengkap banget. Semangat anggota (Komisi V) mungkin karena para pramugari cantik ini,” sindirnya.

Hal ini kemudian dimanfaatkan Edward Sirait untuk menyampaikan keluh kesah atas sanksi yang diberikan Kementerian Perhubungan atas dua kesalahan yang dilakukannya. "Kami merasa perlakuan sewenang-wenang dalam konteks berbisnis di Indonesia. Satu contoh, kami ingin terbang Ambon-Dobo, kemudian izin itu diicabut setelah kami peroleh. Ada beberapa rute juga yang dicabut seperti Pekanbaru-Kerinci dan Denpasar-Surabaya,” ucapnya.

Edward mengaku pihaknya siap dibina Kementerian Perhubungan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. "Kami ingin diperlakukan sama dengan perusahan trasnportasi lainnya. Kalau ada kekurangan, kami ingin seperti yang lain, dibina,” ucapnya.

Sebagian anggota Komisi V seperti tersihir dengan ucapan Edward dan kehadiran para pramugari itu. Tidak ada yang bersikap keras. Yang ada cuma menyayangkan dua kasus yang bikin heboh itu dilakukan Lion Air.

"Saya melihat, tujuan Lion Air ke sini jelas bahwa ada perlakuan tidak adil. Tapi, persoalannya sederhana saja, Lion Air sanggup nggak melaksanakan undang-undang itu,” ujar anggota Komisi V dari Fraksi Hanura Fauzih Amro. Untuk itu, meminta Lion tidak banyak mengeluh.

Fauzih juga mendukung operasi perusahaan yang dijalankan Lion Air. Alasannya, Lion Air merupakan perusahaan penerbangan yang dimiliki pengusaha pribumi. "Menariknya, ini milik anak bangsa. Sebanyak 80 persen sahamnya milik pribumi. Merekrut 35 ribu orang pegawai. Kita bangga, tapi akibat kasus ini menjadi kebanggan semu,” ungkapnya.

Anggota Komisi V dari Fraksi Golkar Hamka Kady juga cuma menyayangkan kinerja Lion Air yang sering bikin masalah. Padahal, Lion Air merupakan maskapai yang dicintai dan dibutuhkan masyarakat.

"Penerbangan ini dicintai masyarakat. Saya concern, kenapa sih harus delay?” cetusnya. "Proses rekrutmen yang saya lihat itu seadanya. Karyawan Bapak belum siap. Apakah tidak mau belajar? Karena ini persoalan manusia yang melayani orang,” imbuhnya.

Anggota Komisi V dari Fraksi PAN A Bakri memastikan, pihaknya menerima dengan baik semua keluh kesah yang disampaikan Lion. Pihaknya pun siap memanggil Menteri Perhubungan Ignasius Jonan untuk meneruskan keluh kesah itu.

Beres rapat, sebagian anggota Komisi V itu mengajak selfie para pramugari Lion Air itu. "Lumayan, supaya nggak ngantuk,” celetuk salah satu anggota Komisi V. Setelah itu, rapat pun bubar. [sam]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya