Berita

foto :net

Bisnis

Proyek Listrik 35 MW Terganjal Leadership Pemerintah

SABTU, 14 MEI 2016 | 13:54 WIB | LAPORAN:

Rencana pemerintah Jokowi-JK membangun pembangkit listrik 35 ribu megawatt patut diapresiasi. Meski begitu, sudah setahun berjalan, rencana tersebut belum menunjukkan hasil yang signifikan.

Padahal tahun lalu, Jokowi telah mengeluarkan Peraturan Presiden mengenai proyek itu.

Menurut Wakil Kepala Unit Pelaksana Program Pembangunan Ketenagalistrikan Nasional (UPK3N) Agung Wicaksono, proyek pembangkit listrik 35 ribu MW masih terganjal oleh proses birokrasi antar kementerian yang terkait.


"Masalah listrik ini negara belum satu," ujarnya dalam diskusi dengan topik "Mengapa 35 Ribu Megawatt Lambat?" di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/5).

Selain belum ada kesamaan visi, beber dia, kepemimpinan di Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga hanya menganggap rencana tersebut sebagai program negara, bukan PLN.

Agung menambahkan, Jokowi harus segera mengambil tongkat komando dan mengevaluasi pihak-pihak yang menghambat pembangunan pembangkit listrik 35 ribu MW.

Agung membeberkan, hingga kini proses lelang proyek pembangkit listrik baru sebatas 18 ribu MW. Sisanya terganjal revisi Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

"Ada yang sudah jalan lelang, sudah ada yang berjalan, tiba-tiba dibatalkan, skalanya nggak main-main 2 ribu megawatt. Setelah proses lelang yang sekian lama, dibatalkan oleh PLN melalui agen pengadaan yang ditunjuk, tapi yang kita tangkap dari pasar ini nggak jelas alasannya apa. Artinya ini potensi kemunduran yang luar biasa," terang Agus.

Kendala lain, lanjut Agung, belum adanya bisnis plan 2016-2025 yang dilaporkan PLN kepada pemerintah. Menurut dia, seharusnya pemerintah bisa turun ke bawah memantau pelaksanaan program tersebut.

"Kendalanya ada di PLN dan leadership pemerintah," ujar Agus.[wid]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya