Berita

foto:net

On The Spot

Buang Air Pun, Sandera Dijaga Ketat Abu Sayyaf

Meski Tak Ada Penyiksaan Fisik
RABU, 04 MEI 2016 | 09:39 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Air mata Yola tumpah saat berjumpa suaminya, Alvian Elvis Peti. Kerinduan begitu dalam, membuat Yola amat emosional saat bertemu orang yang dicintainya itu.
"Saya bersyukur sekali kepada Tuhan, karena suami telah kem­bali dan berkumpul bersama keluarga," ujar Yola dengan raut bahagia.

Pertemuan nan mengharukan itu terjadi di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Jakarta, Senin (2/5).

Alvian merupakan salah satu dari 10 anak buah kapal (ABK) kapal tugboat Brahma 12, yang dibebaskan kelompok Abu Sayyaf di Filipina.

Alvian merupakan salah satu dari 10 anak buah kapal (ABK) kapal tugboat Brahma 12, yang dibebaskan kelompok Abu Sayyaf di Filipina.

Tidak sendirian, Alvian ber­sama dengan Peter Tonsen Barahama, Julian Philip, Mahmud, Surian Syah, Surianto, Wawan Saputra, Bayu Oktavianto, Rinaldi dan Wendi Raknadia. Para sandera ini disambut Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi sebelum diserahkan kepada keluarganya masing-masing.

Anak semata wayang Alvian dan Yola pun menghadiri acara ini. Pelukan dan ciuman hangat didaratkan sang ayah kepada anak yang baru berumur dua tahun itu. Dengan kembalinya Alvian bersama keluarga, Yola mengucapkan banyak terima kasih Menlu dan perusahaan yang telah ikut campur dalam pembebasan suaminya.

"Berkat kasih dan karunianya, serta bantuan banyak pihak, suami saya bisa berkumpul kembali," ucap Yola.

Tak lupa, Yola selalu berdoa bersama keluarga besarnya demi keselamatan suaminya selama dalam penyanderaan kelom­pok ekstrimis Abu Sayyaf di Filipina.

Sementara, Kapten Kapal Brahma 12 Peter Tonsen men­ceritakan kondisi selama dalam penyanderaan. Dia menuturkan, selama lebih dari satu bulan disandera, dirinya tidak menda­patkan penyiksaan sama sekali dari militan Abu Sayyaf. Namun, mereka hidup di hutan yang kon­disinya memprihatinkan.

"Tidur beralas daun kelapa. Makan dikasih, tapi cuma sekali sehari. Kalau tak ada operasi militer Filipina, kadang dua kali sehari," ujar Peter.

Menurut Peter semua sandera kesulitan mandi. Mereka hanya menanti air hujan, baru bisa membersihkan badan dan men­cuci baju yang mereka kenakan. "Kadang dua minggu tak ada hujan, jadi tak mandi. Buang air kecil dan besar bisa, tapi dikawal ketat," kenangnya.

Selain itu, selama penyan­deraan, lokasinya pindah-pin­dah untuk menghindari tentara Filipina. "Kita tak tahu lokasinya karena kalau pindah pasti malam hari," katanya.

Tidak hanya lokasi, Peter juga tidak mengenali para pelaku penyanderaan. "Muka mereka ditutup masker," ucap pria yang mengenakan kemeja putih ini.

Peter memastikan, kelompok yang menyanderanya merupakan ekstrimis Abu Sayyaf. "Sebelum dibawa ke pulau, mereka bilang Abu Sayyaf," ceritanya.

Sebelum dibebaskan kelom­pok ekstrimis, Peter mengaku diantar menggunakan perahu selama beberapa jam dari pulau tempat penyandera saat malam tiba. Setelah menaiki perahu, selanjutnya menumpang truk menuju kediaman Gubernur Sulu, Filipina. "Di tempat gu­bernur, kami disambut baik dan diberi makan," ujarnya.

Pria berjenggot ini bersyukur bisa dibebaskan dan berterima kasih banyak kepada perusa­haan, pemerintah Indonesia, pemerintah Filipina, dan semua pihak yang ikut membantu pem­bebasan dirinya dan sembilan anak buahnya.

"Ini cobaan, tapi kami bersyu­kur bisa bebas," tutupnya.

Pengalaman sama diceritakan ABK lainnya, Wawan Saputra. Dia mengatakan, kelompok Abu Sayyaf memperlakukan seluruh ABK dengan baik. Bahkan, ke­butuhan makan sehari-hari tidak lupa selalu diberikan.

"Apa yang mereka makan, ka­mi makan juga. Tapi, tidak tentu setiap harinya," ujar Juru Mudi kapal tugboat Brahma 12 ini.

Selama lebih dari sebulan disandera, Wawan diberi makan nasi dan buah-buahan di tengah hutan. Namun, dia tidak tahu lokasi hutan itu. "Makannya seperti mangga, nasi, gitu saja," sebutnya.

Pria yang mengenakan pakaianputih ini memastikan, tidak ada kekerasan yang dilakukan kelompok Abu Sayyaf. "Kekerasan fisik tidak ada sama sekali," ucapnya.

Selama dalam penyanderaan, Wawan pernah sekali bicara dengansalah satu sandera yang juga berasal dari Indonesia. "Karena sama-sama dari Indonesia," sebut dia.

Lebih lanjut, kata Wawan, para ABK yang disandera terus dijaga, sehingga tidak ada waktu sedikit pun untuk kabur dari tempat tersebut. "Satu sandera, dijaga satu sampai dua orang," kata dia.

Para sandera juga mengenakan pakaian loreng dilengkapi laraspanjang layaknya tentara. "Kadang penyandera tidur bergan­tian, bahkan tidak tidur karenamenjaga kami," ujarnya.

Tidak jauh beda, Mualim I atau Chief Office Kapal Brahma 12, Julian Philip menyebut, para sandera mengikuti pola makan pe­nyandera. "Kalau mereka makan dua kali, kita dua kali," ujarnya.

Terpisah, Wakil Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta, Bambang Dwi memas­tikan bahwa 10 ABK Brahma 12 dalam keadaan sehat dan sangat prima. "Tidak ada trauma yang kita dapatkan dari pemeriksaan," ujar Bambang di RSPAD Jakarta.

Menurut Bambang, kondisi psikis para ABK juga semakin membaik setelah mereka men­dengarkan orang Indonesia ber­cakap di sekitar mereka. "Saat dengar suara orang Indonesia dan nasi goreng, psikis mereka langsung sehat," ucapnya.

Bambang menjelaskan, kon­disi seluruh ABK ini diperiksa pada Senin dini hari (2/5), pukul 01.00 WIB. Pemeriksaan dilaku­kan tiga tahap, yaitu pemeriksaan fisik, penunjang, dan pemerik­saan jiwa hingga selesai Senin siang. Pemeriksaan dimulai dari tahap fisik oleh tim dokter spesialis, dan dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang.

"Pemeriksaan diakhiri dengan pendalaman atau konsultasi den­gan dokter spesialis," jelasnya.

Sedangkan, Kepala Kepolisian Jolo, Filipina, Junpikar Sitin mengatakan, 10 WNI itu dibe­baskan pada Minggu tengah hari (1/5). Lebih lanjut, kata dia, beberapa orang tak dikenal mengantar mereka ke kediaman Gubernur Abdusakur Tan Jnr di Pulau Jolo di tengah hujan lebat. Setelah diantar ke depan kedia­man Gubernur Sulu, lanjut dia, mereka lantas dibawa masuk dan disuguhi makanan.

Sejauh ini, belum diketahui alasan pembebasan para sandera itu. Namun, disebut-sebut, uang tebusan sebesar 50 juta peso atau sekitar Rp 14 miliar, sudah dibayarkan kepada pihak Abu Sayyaf. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya