Berita

foto:net

Sinetron Di TV Bikin Miris Gimana Negara Bisa Maju?

Perang Petisi Online Soal Tayangan Anak Jalanan
KAMIS, 21 APRIL 2016 | 09:22 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Publik media sosial mendesak penayangan sinetron Anak Jalanan dihentikan. Para netizen yang tergabung dalam Gera­kan Peduli Generasi Muda Indonesia itu, mengajukan petisi online melalui situs Change.org. Petisi ini didukung 26.684 neti­zen. Sementara petisi tandingan hanya didukung 448 netizen.
 
Petisi online tersebut berjudul "Hentikan Tayangan Anak Jalanan RCTI." Sampai Rabu, (20/4), petisi tersebut telah ditandatangani 26.684 netizen. Pertimbangan para netizen mendesak penghentian sinetron itu karena dinilai memberikan dampak yang tidak baik untuk generasi muda.

Para netizen penandatangan petisi online tersebut, mengajukan kebera­tan karena menilai sinetron yang tayang sejak Oktober 2015 itu tidak mendidik generasi muda.


Sinetron Anak Jalanan menayang­kan adegan kekerasan dan gaya hidup hedon. Bahkan ada adegan pemuda-pemudi menjalin hubungan di luar batas nilai-nilai ketimuran. Netizen khawatir, adegan-adegan tersebut dapat dicontoh generasi muda yang menjadi audiens sinetron tersebut.

Petisi online "Hentikan Tayangan Anak Jalanan" ditujukan kepada Presiden Joko Widodo, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), RCTI se­laku stasiun televisi yang menayang­kan sinetron tersebut. Kemudian ju­ga MNC Media, Hary Tanoesoedibjo yang merupakan bos MNC Group dan Menkominfo.

Para inisiator yang mengajukan petisi online juga menampilkan sejumlah link berita tentang kepri­hatinan publik terhadap sinetron itu. Pada kolom komentar yang disediakan di laman change.org, para pendukung petisi menuliskan alasan. Seperti netizen yang menye­salkan adanya tanyangan sinetron yang menurutnya tidak baik untuk anak-anak dan remaja.

"Miris sekali ketika ku lihat acara TV zaman sekarang. Dengan berba­gai judul film yang tak masuk akal, lihat judulnya saja aneh. Bagaimana dengan isi ceritanya? Tolong, bibit negara kita ini butuh sebuah ton­tonan positif serta memiliki makna yang baik. Bagaimana bisa Negara kita maju? Bila bibit Negara, masa depan Negara sudah diperbodohi dan diajarkan hal yang tak berman­faat," tulis akun Tata Kebaya.

Netizen Rania berpendapat, sin­etron Anak Jalanan sepantasnya banyak kena sensor. Sebab, ber­bagai tayangannya hanya memberi­kan pengaruh buruk bagi generasi penerus bangsa.

"Saya setuju (sinetron Anak Jalanan dihentikan) dan menyesal­kan tayangan seperti Anak Jalanan, jelas-jelas amanat yang dikandung sukar didapat dan lebih banyak mudharat yang didapat mulai dari sifat hedonis, fanatisme terhadap suatu golongan masyarakat atau remaja (genk), dan lain-lain," tulisnya.

Sementara akun Wahyu meminta KPI sebagai lembaga yang berhak mengontrol lembaga penyiaran, untuk menjalankan tugasnya.

"Kartun aja disensor, kenapa ton­tonan kaya gini masih ditayangin? Cuma mengejar rating tapi mengor­bankan generasi muda. KPI tutup mata apa ikutan nonton acara ini. MENYEDIHKAN," sentilnya.

Netizen lain mencontohkan dampak tanyangan sinetron yang di­siarkan RCTI itu terhadap adiknya. "Adik perempuan saya kelas 2 SD sudah tahu apa itu pacaran dari tayangan tersebut," keluhnya.

Akun Evan berharap, pemerintah dan pembuat film atau sinetron mampu menyajikan tontonan ber­manfaat. "Saya berharap ada ton­tonan yang edukatif, informatif dan menghibur. Tontonan kayak sinetron Anak Jalanan tidak ada sisi positif­nya," cetusnya.

Para netizen juga menyuara­kan protes melalui Twitter dengan hashtag #StopSinetronAJrcti. Para tweeps menganggap, sinetron itu mengajarkan hal-hal negatif kepada remaja.

Akun @wisnu_eure misalnya, meminta agar ideologi kekerasan dalam sinetron Anak Jalanan segera dihentikan demi menyelamatkan generasi bangsa.

Akun Kozuda Meg pada jejaring sosial Facebook.com Senin (25/1), menyesalkan kelakuan kru dan artis Anak Jalanan. Dia melapor­kan kesaksiannya tentang pemeran utama sinetron itu, Stefan William, bersama kru melakukan dandan di ruang shalat wanita. Mirisnya, hal itu berlangsung saat jamaah sedang melaksanakan shalat.

Kakak Risti, nama asli Kozuda Meg, memprotes tindakan tersebut. Namun, dia malah mendapatkan jawaban emosional dari salah satu kru.

KPIPusat memutuskan bahwa program tersebut telah melang­gar Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 14 dan Pasal 21 Ayat (1) serta Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 15 Ayat (1) dan Pasal 37 Ayat (4) huruf a. Namun, KPIPusat hanya memberikan sanksi adminis­tratif berupa teguran tertulis.

Lalu pada 11 April 2016, muncul petisi tandingan pada situs yang sama bertajuk "Lanjutkan Sinetron Positif Anak Jalanan Sebagai Teladan." Tapi hingga kemarin sore, petisi yang dibikin akun Janji Joni itu hanya didukung 448 netizen.

Di antara komentar netizen pendukung, Hefi Setyaningrum menulis,"Karena sinetron Anak Jalanan banyak memberi pelajaran positif...Saya rasa sinetron berperan baik dan jahat itu wajar, untuk mem­beri suasana berbeda, orang hidup aja nggak flat-flat aja."

"Sinetron Anak Jalanan merupa­kan satu-satunya sinetron yang men­ginspirasi anak muda," cuit akun Nabila Dwi Novianto. ***

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya