Berita

Politik

Rachmawati Pertanyakan Sikap Gamang Jokowi Soal Angkutan Online

JUMAT, 25 MARET 2016 | 07:09 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Sikap Presiden Joko Widodo yang membiarkan keberadaan Uber dan Grab Car, taksi berbasis daring atau online, dipertanyakan Rachmawati Soekarnoputri.

"Tahukah Grab basisnya di Singapura bermitra dengan Lippo grup, sedangkan Uber basisnya di San Fransisco, Amerika Serikat. Keduanya dengan investasi triliunan, bisnis Cyber Capitalism ini di banyak negara sudah dilarang tapi lagi-lagi sikap Indonesia "gamang" menghadapi kapitalis besar," ‎ujar tokoh politik senior itu dalam perbincangan dengan redaksi, Jumat (25/3).

Negara-negara yang melarang taksi berbasis aplikasi online antara lain Korea Selatan, Belanda dan Jerman. ‎Di Seoul, pemerintah setempat melarang karena taksi berbasis internet dianggap tak memberikan standar keamanan bagi penggunanya, dan sebagai gantinya mereka membuat aplikasi sendiri. Sementara pengadilan Frankfurt melarang Uber beroperasi karena dinilai sebagai perusahaan tidak resmi.


Menurut puti Bapak Proklamator Bung Karno ini, ‎keberadaan transportasi online yang diklaim menciptakan lapangan kerja jelas-jelas telah menimbulkan keresahan sosial yang memicu konflik horizontal di tengah-tengah masyarakat. Sudah dua kali ribuan sopir taksi konvensional turun ke jalan. Bahkan, dalam demonstrasi yang terakhir terjadi saling serang antara sesama sopir taksi konvensional, dan dianara sopir taksi konvensional dengan sopir angkutan online.

Akibat lainnya, kata dia, perusahaan transportasi konvensional lambat laun akan gulung tikar akibat perlakuan tidak adil dari pemerintah. Angkutan konvensional diwajibkan memiliki izin dan membayar pajak, sementara hal yang sama tidak berlaku bagi angkutan berbasis aplikasi. Begitu juga terkait besaran tarif, dimana tarif angkutan konvesional lebih mahal dari angkutan berbasih aplikasi.

"Pada saatnya nanti akan terjadi akumulasi kepadatan taxi online maupun gojek. ‎Rental kendaraan pribadi salah satu penyumbang kemacetan luar biasa. Konon Grab car menguasai 50% pasar taxi pribadi, belum Uber. Jadi apanya mengurangi kemacetan dan kepadatan lalin?" tanya Rachmawati.[dem]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya