Berita

Susilo Bambang Yudhoyono dan Ani Yudhoyono:net

SBY: Saya Tak Mau Ibu Ani Jadi Korban

Soal Isu Capres Dari Demokrat
SENIN, 21 MARET 2016 | 09:23 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

SBY baru saja selesai menggelar Tour De Java. Namun, ada yang menganjal di hati Ketua Umum Partai Demokrat yang juga Presiden ke-6 RI itu. SBY merasa terganggu dengan munculnya meme di media sosial tentang pencapresan Ani Yudhoyono. SBY tak ingin, gara-gara meme itu istrinya jadi korban cacian di media sosial.

Kemarin, rangkaian Tour De Java resmi ditutup. Acara pamungkas dibungkus dengan menggelar Rakornas Partai Demokrat di Hotel Harris, Surabaya. Sebanyak 34 ketua DPD seluruh Indonesia dan 60 anggota DPR dari Fraksi Demokrat hadir. Para pejabat teras Demokrat juga lengkap.

Ada Sekjen Hinca Panjaitan, Waketum Syarief Hasan, Nurhayati Assegaf, Pramono Edhie Wibowo, Roy Suryo, Ketua Dewan Pembina Ee Mangindaan, dan Ketua Dewan Kehormatan Amir Syamsuddin.


Di acara itu SBY juga mengundang tiga eks menterinya: Chairul Tanjung, Hatta Rajasa, dan M Nuh. Charul Tanjung dan Hatta diundang untuk memberi materi tentang kondisi ekonomi dan peluang investasi di daerah.

Acara digelar seharian penuh. SBY memimpin semua rangkaian acara tanpa proprokoler. Namun begitu, SBY tidak memonopoli. Dia hanya bicara saat pembukaan dan penutupan. Sisanya, kader yang bicara.

Dalam pidato pembukaan di pagi hari, SBY mengemukakan ganjalan yang ada di hatinya. SBY membantah tengah menyiapkan Ani sebagai Capres 2019 dari Partai Demokrat. SBY justru kaget tiba-tiba ada meme pencapresan istrinya itu menyebar luas di media sosial.

"Tidak ada angin tidak ada hujan, seolah-olah kita sudah punya capres, dan kebetulan Ibu Ani disebut di situ sebagai Capres 2019. Saya ingin klarifikasi, karena kita terganggu. Tidak ada yang berpikir sama sekali soal capres. Saya minta, tolong diivestigasi, siapa yang melepas itu (yang menyebarkan isu)," ucap SBY.

Meme itu menyebar pekan lalu, tepat sehari setelah SBY menyatakan akan menyiapkan seseorang untuk bertarung dengan Presiden Jokowi di 2019. Dalam meme itu, Ani yang mengenakan kebaya biru tengah melambaikan tangan kanannya. Latar gambar menggunakan bendera merah putih. Disampingnya ada hastag #AniYudhoyono2019 plus slogan "Lanjutkan!" yang digunakan SBY saat pencapresannya di 2009.

Kata SBY, ada dua kemungkinan dari penyebar meme itu. Bisa jahat, dengan tujuan membusukkan dan memecah belah kekompakan Demokrat. Bisa juga baik atau cuma iseng. Tapi, yang jelas, akibat meme itu, istrinya jadi bulan-bulanan di media sosial.

"Kita harus jernih, cermat, dan waspada. Karena politik itu keras dan kadang-kadang kejam. Kadang sarat dengan fitnah. (Saya) tidak ingin seorang Ibu Ani atau siapapun menjadi korban dari serangan-serangan di media sosial, di-bully kiri dan kanan," ucap SBY.

SBY memastikan, pada saatnya nanti Demokrat akan punya capres dan cawapres. Di Demokrat akan mekanisme yang dilakukan di Majelis Tinggi. Untuk saat ini, Demokrat masih meneropong kandidat-kandidat yang punya integritas, kapasitas, kapabilitas, dan juga elektabilitas yang pantas dinominasikan. Tapi, sampai saat ini belum menentukan nama.

SBY juga merasa sedih karena ada pihak-pihak yang curiga dengan pelaksanaan Tour De Java. Padahal, tujuan kegiatan itu baik.

Sepanjang perjalanan dirinya hanya berkomunikasi dengan masyarakat dan menyatakan harapan dan tanggapannya soal program pemerintah. Saat ada keinginan publik yang tak realistis, SBY bahkan mau jadi bemper Jokowi dengan menyebut bahwa program itu tidak dilaksanakan.

"Saya sedih kalau ada yang curiga. Niat kami baik. Jadi tidak perlu marah, di medsos mem-bully," tuturnya.

Sore harinya, Rakornas ditutup dengan menelurkan 10 rekomendasi untuk ditindaklanjuti pemerintah. Se-10 rekomendasi itu merupakan hasil Tour De Java yang dilakukan. Sekjen Demokrat didaulat membacakan 10 rekomendasi itu. Berikut isinya:

Di antaranya, Demokrat mendukung penuh kebijakan dalam pembangunan infrastruktur. Namun demikian, perlu dipastikan dengan seksama kebijakan pembiayaan yang tepat. Penggunaan APBN untuk biaya infrastruktur yang terlalu besar bisa mengganggu alokasi untuk penanggulangan kemiskinan. ***

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya