Berita

ist

Musim Pendakian Ditutup, Tim Indonesia Raya Turun Terakhir Dari Aconcagua

SENIN, 07 MARET 2016 | 20:57 WIB | LAPORAN:

Tim Ekspedisi Indonesia Raya yang memulai misi pendakian Gunung Aconcagua Argentina sejak 21 Februari 2016 pada Minggu pukul 19.15 waktu setempat atau Senin, 05.15 pagi tadi menuruni gunung yang menandai berakhirnya seluruh rangkaian pendakian.

Tim Ekspedisi Indonesia Raya menjadi rombongan pendaki terakhir yang menuruni gunung dengan ketinggian 6.962 mdpl pada musim pendakian Aconcagua yang dibuka September 2015 hingga Februari 2016.  

"Sekalipun pendakian ini begitu dramatis dan menguras tenaga sehingga terdapat sejumlah personil yang mesti dihentikan di tengah perjalanan. Kami bersyukur seluruh tim sehat wal afiat dan selamat menyelesaikan misinya," kata promotor Tim Ekspedisi Indonesia Raya Teguh Santosa yang menjemput pendaki di Jembatan Horcones pada ketinggian 2.950 mdpl.


Dalam pendakiannya, Tim Ekspedisi Indonesia Raya sekalipun menghadapi cuaca dingin dan badai berbahaya atau El Viento Blanco berhasil menjejakkan kaki di ketinggian 6.600 mdpl atau terpaut  300 mdpl dari summit attack di ketinggian 6.962 mdpl.

Namun awan tebal disertai badai dengan kecepatan angin 30 knot yang terus membayangi tim tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan. Kondisi ekstrim dengan suhu minus 14 derajat celcius itu memaksa tim turun menuju Plaza De Mulas di ketinggian 4.300 mdpl.

Gunung Aconcagua merupakan gunung kedua tertinggi di dunia setelah Everest yang dikenal dengan cuaca ekstrimnya. Pada musim pendakian September 2015-Februari 2016 yang ditutup pada 15 Maret ini banyak rombongan pendaki dari mancanegara, di mana tercatat satu pendaki meninggal dunia.

"Sebenarnya tim sudah mengkaji optimal seluruh opsi melakukan pendakian ulangan dengan summit attack setelah turun  di titik aman 4.300 mdpl. Namun, tidak memperoleh ijin pihak otoritas Aconcagua Park, mengingat cuaca gelap di atas puncak Aconcagua yang tak berkesudahan," jelas Teguh.

Sebelumnya, tim pendakian militer dari Belanda pun yang menjadi rombongan kedua terakhir yang sampai di ketinggian 5.900 mdpl pun terpaksa harus turun.  

Tim Ekspedisi Indonesia Raya yang diperkuat pendaki tunadaksa Sabar Gorky, lima anggota Korps Marinir TNI, dua pecinta alam dan seorang wartawati Kantor Berita Politik RMOL bertahan beberapa hari melewati cuaca dingin dan badai berbahaya yang sering dijuluki El Viento Blanco. Ketika menuruni gunung, Tim Ekspedisi Indonesia Raya melakukan prosesi kecil berdoa dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di Jembatan Horcones. Kesembilan pendaki secara umum dilaporkan dalam kondisi baik.

Teguh pun menyampaikan salam dari pendiri Yayasan Artha Graha Peduli (AGP) Tomy Winata yang secara intensif mengikuti perkembangan pendakian dari hari pertama. Yayasan AGP merupakan pendukung utama ekspedisi ini. Pendukung lainnya adalah Kementerian Pariwisata, MatahariMall.com, PT Telkom, dan Kosgoro 1957.

Komandan Pendakian Letkol Marinir Rivelson Saragih mengatakan, para pendaki telah berupaya sekuat mungkin mencapai puncak Aconcagua, di tengah tantangan alam berupa badai dan perubahan suhu sangat ekstrim. Di awal pendakian, cuaca cukup bersahabat namun mencapai ketinggian 5.000 mdpl para pendaki mulai menghadapi kondisi alam yang keras.

"Kawan-kawan kembali dengan selamat. Ini sesuai dengan harapan kita semua," terangnya.

Rivelson menambahkan, keberhasilan bagi seorang pendaki ketika mampu mengambil pelajaran berharga dari pendakian yang sudah dilaksanakannya.

"Saya berterima kasih seluruh anggota tim bisa bekerja sama dengan baik, sehingga tidak terjadi hal-hal yang di luar kendali," imbuhnya.

Dalam kesempatan sama, Manajer Pendakian Dar Edi Yoga mengatakan bahwa dirinya bangga atas perjuangan semua pendaki.

"Ini adalah kemenangan kita semua. Kita siap menghadapi tantangan dan misi pendakian berikutnya," kata Yoga.

Setelah mendaki Aconcagua, Tim Ekspedisi Indonesia Raya masih akan berada di Argentina beberapa hari sebelum kembali ke Tanah Air. Tim akan diterima Dubes RI untuk Argentina Jonny Sinaga dan Atase Pertahanan RI Kolonel (Pnb) Budhi Achmadi di Buenos Aires.

Teguh berharap pendakian yang memperoleh dukungan luas  berbagai pihak inipun akan tetap berlanjut mengharumkan dan memperkenalkan nama Indonesia di kancah dunia. Manajer Pendakian Dar Edi Yoga yang berharap seluruh pendaki dapat menyelesaikan ekspedisinya untuk tujuh gunung tertinggi di dunia.

Sebelumnya, Sabar Gorky telah menyelesaikan tiga pendakian gunung tertinggi dunia yaitu Gunung Elbrus yang merupakan bagian dari pegunungan Kaukasus Barat di Kabardibo-Balkaria dan Karachay-Cherkessia Rusia dekat perbatasan Georgia. Gunung ini merupakan gunung tertinggi di daratan Eropa dengan ketinggian puncak 5.642 mdpl.

Summit kedua yang sudah didaki adalah Gunung Kilimanjaro di Tanzania yang memiliki ketinggian 5.895 mdpl. Gunung api aktif ini merupakan gunung tertinggi di daratan Afrika, dan memiliki tiga kerucut api bernama Kibo, Mawenzi, dan Shira.

Gunung ketiga yang didaki Sabar Gorky dan Tim Marinir adalah Puncak Cartenz Pyramid yang terletak di Provinsi Papua dengan ketinggian 4.884 mdpl. Aconcagua sendiri menjadi gunung keempat yang didaki Sabar Gorky bersama tim yang memiliki ketinggian 6.962 mdpl.

Dengan begitu, lanjut Dar Edi Yoga, masih ada tiga gunung lagi yang akan didaki, yaitu Vinson Massif  yang merupakan gunung tertinggi di Benua Antartika. Letaknya sekitar 1.200 kilometer dari Kutub Selatan dengan puncak tertinggi di Gunung Vinson mencapai 4.892 mdpl. Setelah itu, Sabar Gorky dan tim dijadwalkan melanjutkan pendakian ke Gunung Denali dengan ketinggian 6.168 mdpl yang termasuk dalam kawasan Taman Denali, Amerika Serikat. Gunung ini menjadi ketiga tertinggi di dunia setelah Everest dan Aconcagua.  

"Kedua gunung dijadwalkan akan didaki bertepatan 17 Agustus 2016 dan bulan November 2016," terangnya.

Sementara, gunung terakhir yang akan didaki adalah Gunung Everest yang menjadi gunung tertinggi di dunia. Everest terletak di bagian Mahalangur, pegunungan Himalaya, di mana seluruh pendakian itu diharapkan selesai pada tahun 2017. [wah] 

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya