Berita

Politik

BLOK MASELA

Dradjad Wibowo: Sudirman Said, Beranikah Teken Jika Biaya Membengkak Ditanggung Kontraktor?

MINGGU, 06 MARET 2016 | 21:38 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Inpex, kontraktor blok gas abadi Masela, menghitung kilang laut LNG (FLNG) hanya memerlukan biaya 14,8 miliar USD, sedangkan kilang darat (OLNG) biayanya melambung tinggi 19,3 miliar USD.

Bagi ekonom Sustainable Development Indonesia (SDI) Dradjad H Wibowo, gampang saja untuk menguji hitungan Inpex  yang disalin persis sesuai aslinya oleh SKK Migas dan dipresentasikan di depan Presiden Jokowi di Istana pada Januari 2016 itu.

"Berani tidak tandatangan jika nanti biayanya membengkak ditanggung kontraktor, jangan negara, bukan cost recovery," kata Dradjad dalam diskusi bertema "Blok Masela Sesuai Konstitusi" di Jakarta, Sabtu (5/2).  


Bila tidak berani tanda tangan, kata Dradjad, maka ada masalah di balik hitung-hitungan tersebut. Tantangan yang sama dia sampaikan kepada Kementerian Energi Sumber Daya Mineral dan SKK Migas yang ngotot ingin pengelolaan gas Blok Masela dilakukan di laut.

"Jadi untuk Sudirman Said, pertanyaan saya berani tidak? Informasi yang saya peroleh mereka tidak berani menandatangani. Ini kan berarti tidak percaya diri," ujar Dradjad.

Dradjad mengatakan, di Australia yang kapasitas kilang off-shore-nya hanya setengah dari Blok Masela menelan biaya hingga 12 miliar dolar USD. Kalau menggunakan standar Australia maka biaya Blok Masela bisa 20 miliar USD lebih.

Lebih lanjut dia mengatakan teknologi pembangunan kilang di laut merupakan hal yang baru. Makanya tidak aneh jika sampai sekarang belum ada perusahaan asuransi yang berani menjamin proyek Masela.

"Artinya, terlalu beresiko menaruh uang di situ. Kalau tidak ada yang berani, siapa yang menjamin? Negara lagi yang harus terbebani," katanya.

Di Australia sendiri, kata dia, saat pembangunan kilang gas dilakukan di laut, negeri kangguru tersebut sudah kehilangan 7000 kesempatan kerja untuk rakyatnya.

"Australia sangat capital intensive, artinya kalau ini dibangun di laut, pasti selisih pekerjanya bisa puluhan ribu, dan mereka sadar betul itu. Pokoknya, ‎yang saya kaji memang lebih menguntungkan di darat, keamanan juga lebih terintegrasi," pungkasnya.[dem]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya