Berita

syahganda nainggolan

Jokowi, Partai Jokowi dan Sesat Pikir Petugas Partai

KAMIS, 03 MARET 2016 | 08:24 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

BEBERAPA hari lalu kita dikagetkan dengan cuitan Ridwan Kamil yang mengatakan dia mundur dari pencalonan diri untuk kursi Gubernur  DKI setelah ketemu Jokowi.

Dalam pertemuan dengan Jokowi, pertama, Jokowi minta dia untuk tidak bersaing dengan Ahok. Kedua, menasihati dia untuk tidak meninggalkan sebuah periode jabatan di tengah jalan. Ketiga, meminta dia untuk menjadi Gubernur Jabar nantinya.

Tentu saja peristiwa ini menarik. Pertama, sebagian orang berpikir dan berharap bahwa Ridwan Kamil dapat menandingi Ahok yang sampai saat ini terlalu diunggulkan. Kedua, metode pengambilan keputusan ini berbeda dengan apa yang sudah pakem dalam politik, yakni keputusan kader politik biasanya dilakukan setelah berkonsultasi dengan ketua umum partai.


Keganjilan ini tentu menarik perhatian kita. Pertama, kita tentu berpikir bahwa hubungan Ridwan Kamil dan Jokowi selayaknya hubungan kader partai dengan ketua partai. Dalam hal ini Jokowi adalah ketuanya.

Pikiran lain sulit dipahami, sebab, eksistensi Ridwan Kamil dan Jokowi sebenarnya sosok manusia yang saat ini merupakan pelaksana (eksekutif) dari sebuah pemerintahan dan semua biaya hidup serta transportasinya ditanggung negara. Lalu benarkah ada partai Jokowi?

Partai Jokowi


Partai Jokowi bukanlah partai resmi yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM. Partai di sini adalah sebuah institusi non formal namun mempunyai kemampuan mengimbangi  pengaruh partai formal dalam pengambilan keputusan, dan Jokowi sebagai centrum-nya.
Kasus pilkada DKI Jakarta adalah salah satunya. Posisi Ahok sebagai calon Gubernur DKI 2017 merupakan produk Partai Jokowi. Dimana keputusan Ahok tidak tunduk pada keputusan partai-partai politik. Bahkan, partai ini berusaha mempengaruhi, seperti Ridwan Kamil, siapa-siapa yang harus dan tidak harus masuk dalam kontestasi.

Berbeda dengan spekulasi dan keinginan Megawati, bahwa Jokowi hanyalah petugas partai PDIP, ternyata saat ini Jokowi tidak demikian. Jokowi tidak perlu mendengar Megawati untuk persoalan-persoalan yang dianggap penting, seperti penentuan calon Gubernur DKI.

Keputusan Jokowi untuk mendukung Ahok dalam pertarungan Pilkada DKI adalah keputusan Partai Jokowi, bukan keputusan PDIP.

Ben Anderson Vs Sukarno


Langsung setelah pertemuan dengan Jokowi, Ridwan Kamil melemparkan visi tentang Indonesia. Ridwan Kamil merujuk pada pemikiran Ben Anderson bahwa Indonesia adalah sebuah rekayasa sosial yang belum selesai. Sebuah Imagined Nation.

Dan bahkan Ridwan Kamil mengatakan bahwa bangsa ini mempunyai roots di luar Indonesia, yakni Taiwan dan sekitarnya. Sehingga Ridwan Kamil meminta Bangsa Indonesia tidak mempertentangkan ras yang bertarung dalam Pilkada DKI. Sebab, tidak ada ras asli Indonesia.

Mengutip Ben, tentu saja penting dalam karya-karya intelektual. Namun, apakah Ridwan Kamil sebagai sosok politik dari Partai Jokowi sedang melakukan tawaran ilmiah tentang siapa dan apakah Bangsa indonesia? Apakah itu sebuah visi bangsa dari Partai Jokowi? Tentu perlu kita dengar lebih jauh nantinya.

Berbeda dengan visi kebangsaan Ridwan Kamil, Bung Karno memberikan tesis lain tentang Bangsa Indonesia. Menurut Bung Karno, siapa Bangsa Indonesia dan bagaimana identitas ini ditemukannya selama pencarian identitas di masa kolonial sudah terukir dalam sejarah. Bung Karno, dan saja dengan Bung Hatta dan founding fathers lainnya mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa asli yang bermetamorfosis dari bangsa-bangsa dalam nusantara yang melakukan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Pengidentifikasian ini terjadi bersamaan dengan masa perjuangan perlawanan terhadap kolonialisme di seluruh penjuru dunia saat itu. Sebuah bangsa, menurut bung Karno, berakar pada suku bangsa yang ada di dalam bangsa dan sejarah bangsanya.

Oleh karenanya Bung Karno dkk, membedakan Bangsa Indonesia, yang disebut inlanders, dengan bangsa Belanda, Eropa lainnya, dan timur asing. Dan perjuangan Bung Karno adalah kemerdekaan dan  mengangkat harkat kaum inlanders ini.

Apakah visi Ridwan Kamil tentang kebangsaan ini, yang diungkapkannya setelah mendapat petunjuk Jokowi? Tentu kita akan lihat lagi nantinya. Yang jelas baru sekali ini Ridwan Kamil menyampaikan visi kebangsaannya. Sebuah visi yang bertentangan dengan Bung Karno.

Partai Petugas

Membayangkan sosok Jokowi sebagai petugas partai adalah sesat pikir. Megawati yang memberi julukan ini sedang di ambang senja. Sementara Jokowi berada dalam tahta.

Jokowi saat ini terlihat sudah menghimpun sosok-sosok loyal, baik yang mempunyai afiliasi partai maupun tidak. Sebut saja seperti Luhut Panjaitan, Rizal Ramli, Pramono Anung, Teten Masduki, Ahok, dan lainnya, merupakan pentolan-pentolan yang bekerja keras untuk eksistensi Jokowi tidak dikontrol oleh partai politik pengusungnya.

Ditambah lagi jaringan "Jokowi lovers" yang sudah sekian lama mendambakan adanya partai baru yang didirikan Jokowi.

Alih alih pendeskriditkan Jokowi sebagai petugas partai, situasi yang terlihat saat ini adalah Partai Petugas. Yakni sebuah kelompok yang didominasi atau diisi petugas negara, or pejabat negara, bersama Jokowi membangun masa depannya sendiri. Tercermin dari Ridwan Kamil dan sikap politiknya itu.

Sampai sejauh mana Jokowi dan Partai Jokowi ini mampu memperbesar kekuatan dan pengaruh dalam percaturan politik Indonesia, tentu akan terlihat, salah satunya dalam kekuatannya mempertahankan kekuasaan di DKI Jakarta.

Yang lainnya, tentu, bagaimana Jokowi mampu mengontrol kekuasaannya tidak bergantung pada partai-partai politik yang ada. [***]

Penulis adalan peneliti Asian Institute for Information and Development Studies

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya