Pengembangan gas cair Blok Masela harus dilakukan di darat. Hal ini akan lebih besar memberi manfaat bagi negara dan kemakmuran rakyat daripada dilakukan di laut.
Demikian disampaikan Ketua Komisi XI DPR RI Kardaya Warnika. Menurut dia, pengembangan ‎‎dengan kilang LNG di darat dapat memberikan multiplier effect besar bagi daerah sekitar Blok Masela.
"Jika dikembangkan di darat ini (gas Masela) dapat digunakan di dalam negeri untuk membangun industri petrokimia dan pupuk, serta menumbuhkembangkan aneka industri lainya," kata dia.
"Perumahan juga tumbuh pesat karena pekerja membawa keluarga ke sana, muncul pusat-pusat perbelanjaan, hotel, dan sebagainya," sambung dia.
Menurut dia, kalau negara harus mendanai pengembangan wilayah seperti ini biayanya jauh lebih besar ketimbang hasil menjual LNG. Oleh karenanya dia mendukung pengembangan Blok Masela di darat.
Sebelumnya Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli mengatakan bahwa pemerintah akan mengembangkan Blok Masela dengan membangun kilang LNG di darat.
Berdasarkan kajian Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya, biaya pengembangan ladang gas Masela dengan pembangunan kilang darat (onshore) sekitar US$ 16 miliar. Sedangkan jika dibangun kilang apung di laut (offshore), biayanya mencapai US$ 22 miliar, atau US$ 6 miliar lebih mahal dibandingkan dengan kilang di darat.
Rizal Ramli menjelaskan, seandainya pembangunan kilang dilaksanakan di laut, maka Indonesia hanya akan menerima pemasukan US$ 2,52 miliar per tahun dari penjualan LNG. Angka itu pun diperoleh dengan asumsi harga minyak mencapai US$ 60 per barel.
Sebaliknya dengan membangun kilang di darat, gas LNG itu sebagian bisa dimanfaatkan untuk industri pupuk dan petrokimia. Dengan cara ini, negara bisa memperoleh pemasukan mencapai US$ 6,5 miliar per tahun.
[dem]