Berita

Klaim Kekuatan Yusril Hanya Strategi Hindsight

RABU, 24 FEBRUARI 2016 | 08:59 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pandangan Yusril Ihza Mahendra mengenai kemampuan dirinya mengalahkan Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri pada sidang pemilihan presiden di MPR tahun 1999 tak lebih sebuah strategi 'by hindsight' yang tak pernah bisa dibuktikan. Ibarat mimpi indah, pandangan Yusril hanya untuk menghibur diri.

Begitu pandangan pengamat politik DR. Muhammad AS Hikam. Merujuk ungkapan "hindsight is 20:20", Hikam mengungkapkan jika seseorang melihat kembali kejadian masa lalu maka pandangannya akan sempurna. Namun, kesempurnaan itu hanya semacam fatamorgana karena biasanya diwarnai bias subyektifitas. Hikam khawatir inilah yang terjadi dengan Yusril.

"Fakta membuktikan, sejak 1999 klaim YIM (Yusril Ihza Mahendra) bisa menjadi orang nomor 1 atau 2 di negeri ini belum bisa dibuktikan. Hitung-hitungan YIM bahwa beliau punya dukungan lebih banyak ketimbang alm GD (Gus Dur) pada sidang MPR 1999, hemat saya, hanya klaim subyektif atau bahkan semacam harapan kosong (wishful thinking) belaka," kata Hikam melalui akun facebooknya.


Hikam mengatakan sampai saat ini belum ada studi yang bisa dijadikan landasan untuk mendukung klaim Yusril. Adapun yang bisa dianalisa dari peristiwa ketika itu adalah fakta bahwa Yusril mundur sebagai calon presiden sehingga akhirnya Gus Dur berhadapan dengan Megawati, dan hasilnya Gus Dur yang terpilih sebagai presiden ke 4.

"Sah-sah saja kalau YIM mengklaim bahwa pengunduran dirinya adalah demi mencegah perpecahan dan dalam rangka menjaga persatuan, tetapi hal itu tetap bisa diragukan oleh siapapun. Sebab masih banyak variabel yang bisa dipakai untuk menjelaskan fakta tersebut, selain klaim subyektif," kata Hikam.

Fakta lain, ulas Hikam, Yusril sampai saat ini belum pernah berhasil maju sebagai cawapres atau capres yang bertanding sampai putaran pertama dalam Pilpres. Padahal, pengalaman Yusril tiga kali menjadi menteri semestinya menjadikan lebih banyak "modal" bagi dia menjadi capres atau minimum cawapres yang bertanding sampai final.

"Anehnya justru beliau kini siap-siap bertanding dalam Pilkada DKI pada 2017 melawan petahana Gubernur Ahok! Orang bisa mempertanyakan, bukankah ini merupakan sebuah kemunduran dan penurunan kapasitas?" demikian Hikam, mempertanyakan.[dem]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya