Pandangan Yusril Ihza Mahendra mengenai kemampuan dirinya mengalahkan Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri pada sidang pemilihan presiden di MPR tahun 1999 tak lebih sebuah strategi 'by hindsight' yang tak pernah bisa dibuktikan. Ibarat mimpi indah, pandangan Yusril hanya untuk menghibur diri.
Begitu pandangan pengamat politik DR. Muhammad AS Hikam. Merujuk ungkapan "hindsight is 20:20", Hikam mengungkapkan jika seseorang melihat kembali kejadian masa lalu maka pandangannya akan sempurna. Namun, kesempurnaan itu hanya semacam fatamorgana karena biasanya diwarnai bias subyektifitas. Hikam khawatir inilah yang terjadi dengan Yusril.
"Fakta membuktikan, sejak 1999 klaim YIM (Yusril Ihza Mahendra) bisa menjadi orang nomor 1 atau 2 di negeri ini belum bisa dibuktikan. Hitung-hitungan YIM bahwa beliau punya dukungan lebih banyak ketimbang alm GD (Gus Dur) pada sidang MPR 1999, hemat saya, hanya klaim subyektif atau bahkan semacam harapan kosong (wishful thinking) belaka," kata Hikam melalui akun facebooknya.
Hikam mengatakan sampai saat ini belum ada studi yang bisa dijadikan landasan untuk mendukung klaim Yusril. Adapun yang bisa dianalisa dari peristiwa ketika itu adalah fakta bahwa Yusril mundur sebagai calon presiden sehingga akhirnya Gus Dur berhadapan dengan Megawati, dan hasilnya Gus Dur yang terpilih sebagai presiden ke 4.
"Sah-sah saja kalau YIM mengklaim bahwa pengunduran dirinya adalah demi mencegah perpecahan dan dalam rangka menjaga persatuan, tetapi hal itu tetap bisa diragukan oleh siapapun. Sebab masih banyak variabel yang bisa dipakai untuk menjelaskan fakta tersebut, selain klaim subyektif," kata Hikam.
Fakta lain, ulas Hikam, Yusril sampai saat ini belum pernah berhasil maju sebagai cawapres atau capres yang bertanding sampai putaran pertama dalam Pilpres. Padahal, pengalaman Yusril tiga kali menjadi menteri semestinya menjadikan lebih banyak "modal" bagi dia menjadi capres atau minimum cawapres yang bertanding sampai final.
"Anehnya justru beliau kini siap-siap bertanding dalam Pilkada DKI pada 2017 melawan petahana Gubernur Ahok! Orang bisa mempertanyakan, bukankah ini merupakan sebuah kemunduran dan penurunan kapasitas?" demikian Hikam, mempertanyakan.
[dem]