Proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung tidak dibutuhkan oleh warga yang berada di sekitarnya.
Hasil survei Indonesian Development Monitoring (IDM) menunjukkan mayoritas masyarakat di Jakarta dan delapan daerah di Jawa Barat yang dilalui kereta cepat menganggap untuk saat ini ketersedian moda transportasi kereta cepat belum penting.
"89.6 persen responden menyatakan demikian. Ini mengambarkan bahwa kecepatan bukan merupakan pilihan utama untuk sampai ke tujuan dalam berpergian," kata Direktur Eksekutive IDM, Widodo Tri Sektianto, dalam keterangannya, Minggu (14/2).
Sementara itu, yang menganggap penting kecepatan hanya 2,4 persen. Masyarakat yang mengandalkan kecepatan untuk sampai tujuan moda transportasi darat hanyalah untuk kegiatan bisnis atau sekedar melakukan kegiatan meeting yang sangat penting. Selebihnya berpendapat biasa saja.
Adapun responden yang mewakili masyarakat terkait tujuan berpergian dari dan ke Jakarta serta delapan kabupaten yang akan dilintasi kereta cepat, jelas Widodo, hanya 15 ,2 persen responden yang mengatakan untuk urusan pekerjaan atau bisnis.
"Mayoritas responden, sebanyak 41,2 persen mengatakan berpergian hanya untuk bertemu keluarga, plesiran dan berlibur 32,7 persen. Untuk urusan lain-lain 10,9 persen," katanya.
Survei dilakukan dengan mengambil sample dari populasi jumlah penduduk di Jakarta dan delapan kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat, yakni Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kota Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Bandung, dan Kabupaten Bandung.
Survei yang dilakukan 28 Januari-10 Februari 2016 ini menggunakan metodelogi multi stage random sampling dengan jumlah sample 1816 responden. Tingkat kepercayaan 95% dan margin of error +/- 2.3%.[dem]