Profesor Larycia Hawkins/net
Pengalaman Profesor Larycia Hawkins menjadi contoh perjuangan membela kebebasan beragama dan solidaritas lintas umat beragama sangat beresiko sekalipun di negara yang telah memiliki tradisi demokrasi beratus tahun seperti di Amerika Serikat.
Begitu disampaikan pengamat politik senior DR Muhammad AS Hikam.
Profesor Larycia Hawkins diskors dan bahkan akan dipecat dari jabatannya sebagai pengajar tetap dalam bidang ilmu politik oleh pihak Wheaton College, Amerika Serikat, setelah memposting status di Facebook bahwa ia akan memakai jilbab pada Hari Advent.
Sikap demikian dipilih perempuan kulit hitam dan seorang Kristiani itu sebagai solidaritas kepada umat Islam karena umat Islam dan umat Kristiani menyembah Tuhan yang sama.
Dia berpandangan tidak pada tempatnya jika terjadi diskriminasi terhadap kaum muslimin di negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, hanya karena perbedaan keyakinan.
Dihukum kampusnya, Larycia bergeming. Bukan saja beliau tampil memakai jilbab pada peringatan Hari Advent, tetapi juga pada perayaan Hari Hijab Sedunia, sebagai tanda solidaritas dan empatinya kepada umat Islam di AS.
Setelah para kolega dosen melayangkan protes kepada pihak kampus, pemecatan tidak dilakukan. Tetapi Larycia mengundurkan diri dari Wheaton College setelah ada perundingan tertutup (confidential) antar pihak kampus dan dirinya.
"Ada kalanya sebuah lembaga pendidikan tinggi, yang seharusnya paling depan dalam memegang teguh toleransi, hak asasi, dan kebebasan akademis, ternyata gagal dalam pelaksanaan," tulis Hikam di akun facebooknya, Selasa (9/2).
"Perjuangan LH (Larycia Hawkins) hanya salah satu dari sekian banyak kasus yang terjadi di seluruh dunia yang dihadapi oleh para aktivis perlindungan HAM dan relasi harmonis antar umat beragama," masih kata Hikam.
Di Indonesia sendiri kata doktor politik lulusan Hawaii of University ini, kasus yang dialami Larycia Hawkins mungkin belum pernah terjadi tetapi bukan tidak mungkin akan muncul. Sebabnya kondisi relasi lintas umat beragama yang juga mengalami kemerosotan.
"Sosok seperti LH akan menjadi rujukan yang memberikan semangat kepada semua pihak yang memperjuangkan nilai-nilai luhur demi kehidupan yang harmonis antar umat beragama," demikian Hikam.
[dem]